Assalamu'alaikum ...

Foto saya
depok, jawa barat, Indonesia
jadilah apa yang kau inginkan!

Selasa, 13 Juli 2010

Injeksi Vit.B1 Laporan 2

LAPORAN PRAKTIKUM STERIL
FORMULASI INJEKSI VITAMIN B1 (Thiamin HCl)



Disusun Oleh:

PROGRAM STUDY FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan unutk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntuikkan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan disuntikkan. Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik.
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.
Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita. Vitamin B1 atau Thiamine adalah penting untuk pencerakinan dan penggunaan karbohidrat, lemak dan protin. Ia juga membantu memelihara sistem saraf dan otot yang sihat serta fungsi jantung yang normal. Setiap sel badan kita memerlukan vitamin B1 bagi membentuk ATP - iaitu bahanapi untuk badan bekerja. Vitamin B1 bekerja seiring dengan vitamin B2 dan vitamin B3 oleh yang demekian pakar makanan akan mengesyorkan vitamin B1 diambil sebahagian daripada vitamin B complex atau lain-lain multivitamin tambahan.

Beri-beri pada bayi terjadi karena menyusi ASI dari ibu yang mengalami defisiensi vitamin B1. Hal ini ditandai dengan gagal jantung, kehilangan suara, kerusakan saraf tepi. Ketidaknormalan jantung biasanya teratasi dengan pemberian vitamin B1.
GEJALA
Gejala awal berupa kelemahan, mudah tersinggung, gangguan daya ingat, kehilangan nafsu makan, gangguan tidur, rasa tidak enak perut dan penurunan berat badan. Pada akhirnya bisa terjadi kekurangan vitamin B1 yang berat (beri-beri), yang ditandai dengan kelainan saraf, otak dan jantung. Pada semua bentuk beri-beri, metabolisme sel darah merah mengalami perubahan dan kadar vitamin B1 dalam darah dan air kemih akan menurun tajam.
Kelainan saraf (beri-beri kering) dimulai sebagai:
- sensasi rangsangan (seperti tertusuk jarum) di jari- jari kaki
- sensasi panas terbakar di kaki terutama memburuk pada malam hari
- kejang otot betis
- nyeri pada tungkai dan kaki.
Jika penderita juga mengalami kekurangan asam pantotenat, gejala-gejala diatas akan semakin parah
- otot betis terasa sakit
- bangun dari posisi jongkok menjadi sulit
- berkurangnya kemampuan untuk merasakan getaran di jari-jari kaki.
Pada akhirnya otot betis dan otot paha akan mengecil (atrofi) dan timbul footdrop dan toedrop (keadaan dimana kaki atau jari-jari kaki tergantung timpang dan tidak dapat diangkat). Hal ini terjadi karena saraf-saraf dan otot-otot tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Bisa juga terjadi wristdrop.
Kelainan otak (beriberi otak, sindroma Wernicke-Korsakoff) sering timbul jika terjadi suatu kekurangan vitamin B1 yang berat dan mendadak, yang dapat disebabkan oleh pemakaian alkohol yang berlebihan atau muntah berat pada kehamilan, dan memperburuk suatu kekurangan vitamin B1 yang bersifat menahun. Gejala awalnya berupa kelainan mental, laringitis dan penglihatan ganda.
Selanjutnya penderita akan mengarang-ngarang kejadian dan pengalaman untuk mengisi kekosongan ingatannya (konfabulasi). Jika ensefalopati Wernicke tidak diobati, gejalanya akan bertambah buruk, menyebabkan koma bahkan kematian. Penyakit ini merupakan kedaruratan medis dan diobati dengan vitamin B1 intravena (melalui pembuluh darah) sebanyak 100 kali dosis harian yang dianjurkan, selama beberapa hari. Dilanjutkan dengan pemberian vitamin B1 per-oral (ditelan) sebanyak 10 kali dosis harian yang dianjurkan sampai gejalanya menghilang. Penyembuhan sering terjadi tidak secara menyeluruh karena kerusakan otaknya bersifat menetap.

Kelainan jantung (beri-beri basah) ditandai oleh:
- tingginya curah jantung
- denyut jantung yang cepat
- pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan kulit menjadi hangat dan lembab.
Karena kekurangan vitamin B1, jantung tidak dapat mempertahankan curah jantung yang tinggi dan terjadi kegagalan jantung, dimana ditemukan:
- pelebaran vena-vena
- sesak nafas
- penahanan cairan di paru-paru dan jaringan perifer.
Pengobatannya berupa pemberian vitamin B1 secara intravena (melalui pembuluh darah) sebanyak 20 kali dosis harian yang dianjurkan selama 2-3 hari, diikuti dengan pemberian vitamin per-oral (ditelan).
Beri-beri infantil terjadi pada bayi yang mendapatkan ASI dari ibu yang menderita kekurangan vitamin B1, yang terutama terjadi pada usia 2-4 bulan.
Gejalanya berupa:
- kegagalan jantung
- suara hilang
- kerusakan saraf perifer.
Kelainan jantung biasanya akan pulih sempurna bila diobati dengan vitamin B1.

1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam praktikum ini adalah untuk :
1. Memperoleh gambaran mengenai praformulasi suatu zat obat serta membuat dan mengevaluasi hasil dari sediaan yang dibuat.
2. Mengetahui mengenai pengertian, pembagian, cara pembuatan, perhitungan dosis, sterilisasi dan penyerahan suatu sediaan obat parenteral, khususnya injeksi.
3. Agar dapat menyalurkan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dalam bentuk pengamatan dan penyusunan makalah berdasarkan dasar-dasar teori dalam mata kuliah teknologi sediaan steril.

1.3 Tujuan Formulasi Sediaan
Formulasi sediaan disusun berdasarkan zat aktif yang digunakan, sehingga perlu diperhatikan ada atau tidaknya interaksi yang terjadi dengan zat tambahan yang digunakan agar obat/sediaan dapat digunakan secara efektif dan dapat memenuhi syarat-syarat resmi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Dasar
Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir. Injeksi dapat berupa emulsi, larutan, atau serbuk steril yang dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral meneunjukkan pemberian lewat suntikan. Kata ini bersal dari bahasa yunani, para dan enteron berarti diluar usus halus dan merupakan rute pemberian lain dari rute oral.
Syarat-syarat obat suntik :
Aman, tidak boleh memyebabkan iritasi jaringan atau efek tosis
Harus jernih, tidak terdapat partikel padat kecuali berbentuk suspensi
Tidak berwarna kecuali bila obatnya berwarna
Sedapat mungkin isohidri
Sedapat mungkin isotonis
Harus steril
Bebas pirogen

Rute-rute Injeksi
1. Parenteral Volume Kecil
a. Intramuskular
Istilah intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute intramuskular menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute intravena, tetapi lebih besar daripada rute subkutan.

b. Intradermal
Istilah intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan "dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.
c. Intravena
Istilah intravena (IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi, puncak konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat diperoleh hampir sekejap.
d.Subkutan
Subkutan (SC) atau injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang diberikan dengan IV atau IM.
e. Rute intra-arterial; disuntikkan langsung ke dalam arteri, digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah perifer tubuh.
f. Intrakardial; disuntikkan langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan darurat seperti gagal jantung.
g. Intraserebral; injeksi ke dalam serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam pengobatan trigeminal neuroligia.
h. Intraspinal; injeksi ke dalam kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal. Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
i. Intraperitoneal dan intrapleural ; Merupakan rute yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini juga digunakan untuk pemberian larutan dialisis ginjal.
j. Intra-artikular
Injeksi yang digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.
k.Intrasisternal dan peridual ; Injeksi ke dalam sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya merupakan cara yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.
l. Intrakutan (i.c)
Injeksi yang dimasukkan secara langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin.
m. Intratekal
Larutan yang digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai keadaan tubuh pasien.




2. Parenteral Volume Besar
Untuk pemberian larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal digunakan.
a. Intravena
Keuntungan rute ini adalah (1) jenis-jenis cairan yang disuntikkan lebih banyak dan bahkan bahan tambahan banyak digunakan IV daripada melalui SC, (2) cairan volume besar dapat disuntikkan relatif lebih cepat; (3) efek sistemik dapat segera dicapai; (4) level darah dari obat yang terus-menerus disiapkan, dan (5) kebangkitan secara langsung untuk membuka vena untuk pemberian obat rutin dan menggunakan dalam situasi darurat disiapkan.
Kerugiannya adalah meliputi : (1) gangguan kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar; (2) perkembangan potensial trombophlebitis; (3) kemungkinan infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septik, dan (4) pembatasan cairan berair.
b.Subkutan
Penyuntikan subkutan (hipodermolisis) menyiapkan sebuah alternatif ketika rute intravena tidak dapat digunakan. Cairan volume besar secara relatif dapat digunakan tetapi injeksi harus diberikan secara lambat. Dibandingkan dengan rute intravena, absorpsinya lebih lambat, lebih nyeri dan tidak menyenangkan, jenis cairan yang digunakan lebih kecil (biasanya dibatasi untuk larutan isotonis) dan lebih terbatas zat tambahannya.



Pelarut yang paling sering digunakan pada pembuatan obat suntik secara besar-besaran adalah air untuk obat suntik (water for injection, USP). Air ini dimurnikan dengan cara penyulingan atau osmosis terbalik (reverse osmosis) dan memenuhi standar yang sama dengan Purified Water, USP dalam hal jumlah zat padat yang ada yaitu tidal lebih dari 1 mg per 100 mL Water for Injection, USP dan tidak boleh mengandung zat penambah. Walaupun air untuk obat suntik tidak disyaratkan steril tetapi harus bebas pirogen. Air tersebut dimaksudkan untuk pembuatan produk yang disuntikkan yang akan disterilkan sesudah dibuat.air untuk obat suntik harus disimpan dalam wadah yang tertutup rapat pada temperatur di bawah atau di atas kisaran temperatur dimana mikroba dapat tumbuh. Air untuk obat suntik dimaksudkan untuk digunakan dalam waktu 24 jam sesudah penampungan. Tentunya harus ditampung dalam wadah yang bebas pirogen dan steril. Wadah umumnya dari gelas atau dilapis gelas.
Steril Water for Injection,USP adalah air untuk obat suntik yang telah disterilkan dan dikemas dalam wadah-wadah dosis tunggal yang tidak lebih besar dari ukuran 1 liter.seperti air untuk obat suntik,harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung zat antimikroba atau zat tambahan lain. Air ini boleh menagndung sedikit lebih banyak zat pada total daripada air untuk obat suntik karena terjadinya pengikisan zat padat dari lapisan gelas tangki selama proses sterilisasi. Air ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai pelarut, pembawa atau pengencer obat suntik yang telah disteril dan dikemas.dalam penggunaannya, air ditambahkan secara aseptis ke dalam vial obat untuk membentuk obat suntik yang diinginkan.








II.2 Pengkajian Praformulasi
BAHAN AKTIF
Thiamin HCl / Vitamin B1

 Sifat Kimia
Nama Lain : Vitamin B1
Rumus Molekul : C12H17ClN4OS,HCl
Berat Molekul : 337,27
 Sifat Fisika
a. Organoleptis
Bentuk : Serbuk Hablur atau Hablur kecil
Bau : Khas lemah mirip ragi
Warna : Putih
Rasa : Pahit
Kelarutan
Mudah Larut dalam air, larut dalam air panas, Sukar larut dalam etanol (95 %), Praktis tidak larut dalm eter dan dalam benzene, Larut dalam gliserol
b. Titik lebur : 248 o C
c. Kestabilan : Tiamin HCl untuk injeksi harus dilindungi dari cahaya dan disimpan pada suhu kurang dari 40 ° C dan lebih disukai antara 15-30 ° C; menghindari pembekuan
d. pH : 2,7 – 3,4

 Sifat Farmakologi dan Farmakokinetik
a. Khasiat
Antineuretikum dan komponen vitamin B kompleks
b. Efek Samping
Memberikan efek toksik bila diberikan per oral, bila terjadi kelebihan thiamin cepat dieksresi melalui urin. Meskipun jarang terjadi reaksi anafilaktoid dapat terjadi setelah pemberian IV dosis besar pada pasien yang sensitive dan beberapa diantaranya bersifat fatal
Reaksi hipersensitivitas terjadi setelah menyuntik agen ini. Beberapa kelembutan atau nyeri otot dapat mengakibatkan setelah injeksi IM.
c. Tempat absorpsi
Tiamin yang diserap dari saluran pencernaan dan dimetabolisme oleh hati. Eliminasi adalah ginjal, mayoritas yang metabolit dan didistribusikan secara luas ke sebagian besar tubuh
d. Interaksi obat
Bila dicampurkan dengan sodium sulfit, potassium metabisulfit dan sodium hidrosulfit dapat menurunkan kestabilan thiamin HCl di dalam larutan.
Tiamin HCl tidak stabil dalam larutan basa atau netral atau dengan agen oksidasi atau mengurangi. Hal ini paling stabil pada pH 2.
e. OTT
dengan riboflavin dalam larutan jejak prespitation dari thiocrom atau chloroflafin terjadi dengan benzilpenicillin
kompatibel dengan suntikan dekstrosa atau adictive containning metabisulfit

 Wadah dan Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tak tembus cahaya.
 Dosis
Dosis Lazim DEWASA (1XHP) : 10 mg – 100 mg
 Cara penggunaan : IV dan Oral
 Cara sterilisasi : Sterilisasi A ( autoklaf ) dan C ( Filtrasi )

ZAT TAMBAHAN :
 AIR
1. Sinonim : aqua, Hidrogen Oxyde
CAS : [ 7732-18-5]
Berat molekul : 18,02
Rumus Molekul : H2O
Rumus Bangun: H – O – H
2. Bentuk : cairan jernih
Warna : tidak berwarna
Rasa : tidak beras
Bau : tidak berbau
3. Stabilitas : air stabil pada semua jenis subtansi
4. OTT : air dapat bereaksi dengan alkali
5. Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar dan
elektrolit.
6. PH : 5,0 – 7,0
7. Fungsi : Sebagai zat pelarut




RANCANGAN FORMULASI
R/ Thiamin HCl 100mg
Aqua p.i ad. 2 ml


1.4. LEMBAR KERJA PENGKAJIAN PRAFORMULASI


BAHAN AKTIF : Thiamin HCl DOSIS LAZIM
Vitamin B1 Dewasa (1XHP) : 10 mg – 100 mg

TABEL I
Masalah Diinginkan Alternatif Pilihan Alasan
Zat aktif larut air Dipakai sediaan steril • SPVK
• SPVB SPVK Akan dibuat sediaan injeksi dosis tunggal
Zat aktif akan dibuat SPVK Sediaan injeksi • Pelarut air
• Pelarut non air Injeksi pelarut air Karena zat aktif lebih mudah larut dalam air
Pemberian obat harus tepat sasaran Sediaan obat dapat diberikan sesuai dan tepat sasaran • IV
• IM IM Melalui IM secara kuantitatif hasil absorpsi baik dan bioafvaibilitas obat mencapai 80 – 100 %
Zat aktif dibuat sediaan injeksi Bebas kuman, pirogen dan mikroorganisme • Sterilisasi akhir
• Aseptis Sterilisasi autoklaf Zat aktif tahan pemanasan
Zat aktif terurai jika terkena cahaya Tidak terurai oleh cahaya • Ampul berwarna gelap.
• Ampul berwarna bening Ampul berwarna gelap Agar sediaan stabil dan tidak terurai oleh cahaya



DATA ZAT AKTIF

Daftar obat Dosis Lazim Kelarutan pH Jenis sterilisasi khasiat
Thiamin HCl Dewasa (1XHP) : 10 mg – 100 mg Mudah Larut dalam air, larut dalam air panas, Sukar larut dalam etanol (95 %), Praktis tidak larut dalm eter dan dalam benzene, Larut dalam gliserol
2,7 – 3,4 Aseptis Antineuretikum dan komponen vitamin B kompleks


TABEL II

SPESIFIKASI DAN SYARAT SEDIAAN YANG DIINGINKAN

NO. Nama Produk Injecthiam

Bentuk sediaan Injeksi

Bahan Aktif Thiamin HCl

Kemasan Vial 2 ml


Pemeriksaan SPESIFIKASI SYARAT
Warna Tidak berwarna Tidak berwarna

FORMULASI STANDAR DARI FORNAS
Thiamin injection
Komposisi : Tiap miligram mengandung :
Thiamin HCl : 100 mg
Zat tambahan yang cocok secukupnya
API ad 1 ml
Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda, terlindung dari cahaya
Dosis : SC, IM sehari 25 mg – 100 mg
Cat : 1. pH 2,8 – 3,4
2. Pada pembuatan dialiri karbondioksida
3. Disterilkan dengan cara A/C segera didinginkan
4. Sediaan kekuatan lain 50 mg

Penyempurnaan sediaan :
 Sediaan injeksi ini dibuat dengan mengejust pH agar mencapai pH 3







Alat dan cara Sterilisasi

Nama Alat Jumlah Cara sterilisasi
Kaca arloji
Beaker glass
Erlenmeyer
Spatula
Batang pengaduk
Pinset
Gelas ukur
Spuit
Corong dan kertas saring
Ampul 2
2
2
1
1
1
2
1
1
2 Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’



Formulasi Akhir
R/ Thiamin HCl 100mg
Aqua p.i ad. 2 ml

Perhitungan dosis

Volume yang akan dibuat : ( n + 2 ) V’ + ( 2 X 3 )
( 3 + 2 ) 2,15 + 6
10,75 + 6
16,78 ml ≈ 20 ml


Tonisitas:
E NaCl untuk thiamin HCl= 0,25
0,1gx0,25= 0,025
0,025 x 50 ml = 1,25 %
Larutan 1ml NaCl =0,9 %
Jadi Thiamin HCl sudah hipertonis 1,25 % > 0,9 % ( HIPERTONIS )

Penimbangan Bahan
Thiamin HCl = 100 mg X 2 = 0,2 gr
API = ad 20 ml

Prosedur Kerja :
1 Mensterilkan alat – alat sesuai prosedur pensterilan alat.
2 Membuat API dengan cara memanaskan aquades sampai mendididh kemudian menambahkan waktu pendidihan 10 menit setelah mendidih.
3 Timbang zat aktif dan zat tambahan menggunakan kaca arloji, kemudian masukkan ke dalam gelas piala. Kaca arloji kemudian dibilas.
4 Tuangkan sebagian air steril untuk melarutkan zat yang ditimbang.
5 Basahi kertas saring dengan sedikit API sebelum digunakan.
6 Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan.
7 Pindahkan corong ke Erlenmeyer lain yang bersih.
8 Saring larutan kedalam Erlenmeyer lain.
9 Sisa air untuk membilas gelas piala.
10 Isikan larutan kedalam ampul menggunakan spuit.
11 Aliri uap air ( jika perlu )
12 Aliri gas nitrogen ( jika perlu )
13 Tutup ampul.
14 Sterilkan menurut metode.







PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini kami akan membuat injeksi thiamin HCl atau vitamin B 1. Pembuatan sediaan injeksi thiamin hcl dibuat dengan metode pembuatan injeksi pelarut air. Thiamin hcl merupakan vitamin yang larut dalam air, sehingga pembuatanya juga lebih stabil dengan pelarut air dengan bahan zat aktif thiamin hcl dengan tidak menambahhkan bahan tambahan lainnya dan hanya menambahkan aqua pro injeksi . Vitamin B1 stabil dalam larutan pembawa air. Pada penambahan pembawa air yang digunakan (aqua pro injeksi) dibuat dengan cara mendidihkan air selama 30 menit.
Contoh vitamin B1 (thiamin hcl ) yang beredar di pasaran berdasarkan sedian injeksi Menurut FORNAS (Formularium Nasional) sediaan steril tiap thiamin hcl mengandung Thiamin HCl dengan dosis 100 mg dengan penambahan Zat tambahan yang cocok secukupnya lalu add API ad 1 ml. Massa Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal atau wadah dosis ganda, terlindung dari cahaya. Dengan dosis : SC, IM sehari 25 mg – 100 mg.catatan dengan memiliki pH 2,8 – 3,4 .Pada pembuatan dialiri karbondioksida. Disterilkan dengan cara A/C segera didinginkan. Sediaan kekuatan lain 50 mg.Penyempurnaan sediaan thiamin hcl : Sediaan injeksi ini dibuat dengan mengejust pH agar mencapai pH 3. Nilai tonisitas sedian kami yaitu 1,25 % dan itu termasuk ke dalam taraf Hipertonis, sehingga tidak dibutuhkan NaCl 0,9 % karena sudah hipertonis, karena jika masih hipotonis maka akan menyebabkan sel darah menjadi pecah sehingga itu berbahaya oleh karena itu perlu ditambahkan NaCl 0,9 % agar isotonis dengan darah. Kadar hipertonis sediaan kami masih tergolong aman, karena hanya berlebih 0,35 % dari kadar isotonis.
Metode sterilisasi yang digunakan untuk membuat injeksi ini pun dibuat dengan dengan metode aseptis. Metode ini didasarkan pada kestabilan bahan pada pemanasan, dimana berdasarkan literatur resmi bahwa thiamin hcl tidak tahan pemanasan dan akan terurai, sehingga dengan pertimbangan tersebut dilakukan dengan metode aseptis. Metode aseptis dibuat dengan menjaga kemungkinan terkontaminasinya sediaan dengan mikroorganisme pada saat pembuataan. Dalam pembuatan injeksi ini terlebih dahulu alat-alat yang akan digunakan disterilkan terkecuali bahan karena dalam hal ini tidak tahan pemanasan dan zat aktif bisa di anggap (dispensasi) steril. Pada pembuatan injeksi dengan metode sterilisasi aseptis kemungkinan sediaan terkontaminasi dengan mokroorganisme harus diperkecil untuk menjaga agar sediaan yang dihasilkan nantinya tetap dalam keadaan steril.
Selama pembuatan injeksi vit B1 ini, dibuat dengan menggunakan metode intermediate add, dimana setiap wadah yang digunakan nantinya harus dibilas untuk menjaga kadar yang telah ditentukan. Dalam pembuatan injeksi ini juga, pH harus diperhatikan agar tetap dalam rentang kestabilan bahan. Injeksi tidak boleh mengandung partikulat sehingga sebelum dimasukkan ke dalam wadah ampul, sediaan harus terlebih dahulu disaring.
Sedapat mungkin injeksi yang dibuat harus isotonis dengan cairan tubuh ataupun hipertonis dalam keadaan tertentu. Perlunya sediaan injeksi ini dibuat isotonis ataupun hipertonis agar pada saat penyuntikan tidak menimbulkan rasa nyeri. Untuk membuat injeksi yang isotonis dapat dibuat dengan menamabahkan NaCl dalam jumlah tertentu yang telah dihitung dari perhitungan tonisitas sediaan, dalam praktikum ini perhitungan tonisitas sediaan berada dalam rentang hipertonis sehingga tidak perlu penambahan NaCl (injeksi yang isotonis hanya mutlak untuk injeksi yang pemakaiannya secara intravena).
Evaluasi sediaan yang dapat kami lakukanya setelah sediaan injeksi selesai dibuat, adalah evaluasi penampilan sediaan injeksi yang dihasilkan diperoleh larutan bening, hal ini dikarenakan thiamin hcl ini terjadi tidak terjadi reaksi dan stabil pada saat penyimpanan dan pembuatan sedangkan thiamin hcl memiliki pH 2,8 – 3,4 untuk Penyempurnaan sediaan thiamin hcl sediaan injeksi ini dibuat dengan mengejust pH agar mencapai pH 3. sedangkan pada hasil thiamin hcl yang kelompok kami buat mendapatkan kadar pH 2,5- 4,5. Kemudian untuk evaluasi kebocoran ampul dan proses sterilisasi awal tidak dilakukan karena keterbatasan waktu dan alat yang diperlukan. Hanya dapat menguji pH sediaan apakah pH sediaan telah cocok dengan pH cairan di dalam tubuh.



EVALUASI
1. Potensi/kadar
Penentuan kadar dilakukan dengan SP UV, HPLC, SP IR dll
2. pH
Adanya perubahan pH mengindikasikan telah terjadi penguraian obat atau terjadi interaksi obat dengan wadah
3. Warna
Perubahan warna umumnya terjadi pada sediaan parenteral yang disimpan pada suhu tinggi (> 40 oC). Suhu tinggi menyebabkan penguraian
4. Kekeruhan
Alat yang dipakai adalah Tyndall, karena larutan dapat menyerap dan memantulkan sinar. Idealnya larutan parenteral dapat melewatkan 92-97% pada waktu dibuat dan tidak turun menjadi 70% setelah 3-5 tahun. Terjadinya kekeruhan dapat disebabkan oleh : benda asing, terjadinya pengendapan atau pertumbuhan mikroorganisme.
5. Bau
Pemeriksaan bau dilakukan secara periodik terutama untuk sediaan yang mengandung sulfur atau anti oksidan
6. Toksisitas
Lakukan uji LD 50 atau LD 0 pada sediaan parenteral selama penyimpanan
7. Evaluasi wadah
Namun pada praktikum kali ini uji evaluasi yang hanya dilakukan adalah :
1. Warna
Tidak terjadi perubahan warna pada sediaan setelah disimpan. Tetap dalm keadaan bening, atau tidak berwarna.
2. Evaluasi wadah
Wadah yang digunakan cukup rapat dan baik yakni tidak mengalami kebocoran. Vial yang digunakan vial bening yang seharusnya ditutup dengan api Bunsen tetapi tidak dilakukan karena bunsennya rusak, sehingga hanya ditutup menggunakan aluminium voil.
KESIMPULAN
• Pembuatan injeksi Thiamin Hcl dibuat dengan menggunakan pelarut air
• Metode yang digunakan yaitu secara Aseptis karena ThiaminHcl tidak tahan terhadap pemanasan.
• pH sedian injeksi yang telah dibuat yaitu berkisar antara 3 – 4.
• Penyempurnaan sediaan thiamin hcl sediaan injeksi ini dibuat dengan mengejust pH, sehingga di dapatkan sediaan steril telah cocok dengan pH cairan di dalam tubuh.
• Evaluasi sediaan steril injeksi adalah uji penampilan sediaan, kadar pH, tonisitas, kebocoran ampul dan sterilitas sediaan.

















DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Ansel, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. 1989. Jakarta : UI-Press.
Department of Pharmaceutical Sciences. Martindale The Extra Pharmacopoeia, twenty-eight edition. 1982. London : The Pharmaceutical Press.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
Taketomo, Carol K.Pediatric Dosage Handbook.Ed VIII.2001.USA; American Pharmaceutical Association.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press

OTM Neomisin laporan 2

LAPORAN PRAKTIKUM STERIL
FORMULASI OBAT TETES MATA
NEOMICIN SULFAT







Disusun Oleh:

PROGRAM STUDY FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam praktikum ini adalah untuk :
1. Memperoleh gambaran mengenai praformulasi suatu zat obat serta membuat dan mengevaluasi hasil dari sediaan yang dibuat.
2. Mengetahui mengenai pengertian, pembagian, cara pembuatan, perhitungan dosis, sterilisasi dan penyerahan suatu sediaan obat tetes mata.
3. Agar dapat menyalurkan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dalam bentuk pengamatan dan penyusunan makalah berdasarkan dasar-dasar teori dalam mata kuliah teknologi sediaan steril.

1.2 Tujuan Formulasi Sediaan
Formulasi sediaan disusun berdasarkan zat aktif yang digunakan, sehingga perlu diperhatikan ada atau tidaknya interaksi yang terjadi dengan zat tambahan yang digunakan agar obat/sediaan dapat digunakan secara efektif dan dapat memenuhi syarat-syarat resmi.








BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Dasar
Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Obat mata (optalmika) adalah tetes mata (Oculoguttae), salep mata (Oculenta), pencuci mata (Colyria), dan beberapa bentuk pemakaian khusus (lamela dan penyemprot mata) serta inserte sebagai bentuk depo yang ditentukan untuk digunakan pada mata utuh atau terluka.
Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep terbatas, pada umumnya obat mata diberikan dalam volume yang kecil. Preparat cairan sering diberikan dalam bentuk sediaan tetes dan salep dengan mengoleskan salep yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cair yang lebih besar dapat digunakan untuk menyegarkan atau mencuci mata.
Larutan untuk mata adalah larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan ke dalam mata. Selain steril preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadapfaktor-faktor famasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisita, dapar, viskositas dan pengemasan yang cocok. Semua larutan untuk mata harus dibuat steril jika diberikan dan bila mungkin ditambahkan bahan pengawet yang cocok untuk menjamin sterilitas selama pemakaian.
Meskipun larutan untuk mata disterilkan dengan uap air mengalir dalam otoklaf dalam wadah akhirnya, metode yang digunakan tergantung pada sifat khusus dari sediaannya. Obat-obat tertentu yang dalam media asam termostabil (tahan panas) dapat menjadi termolabil (tidak tahan panas) ketika didapar mendekati kisaran pH fisiologis (kira-kira 7,4). Jika diinginkan pH yang lebih tinggi, larutan obat yang belum didapar dapat dipanaskan dahulu dalam otoklaf dan larutan dapar steril ditambahkan kemudian secara aseptis. Dengan kekecualian garam basa kuat dengan asam lemah seperti natrium flourescein atau natrium sulfasetamid, larutan obat mata yang paling biasa yang disiapkan dalam pembawa asam borat dapat dosterilkan dengan aman ada 121° C selama 15 menit.



Untuk membuat sediaan yang tersatukan, maka kita perlu memperhatikan beberapa faktor persyaratan berikut:
1. Steril
Farmakope modern mesyaratkan sterilitas kuman bagi optalmika (angka kuman harus 0). Pembuatan tetes mata pada dasarnya pada kondisi kerja aseptik.
2. Kejernihan
Persyaratan larutan bebas partikel bertujuan menghindari rangsangan akibat bahan padat. Filtrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan larutan bebas partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material penyaring kita menggunakan leburan gelas. Misalnya Jenaer Fritten berukuran pori G3-G5.
3. Pengawetan (antimicrobial preservative)
Meskipun steril, ketika disalurkan setiap larutan untuk mata ini harus mengandung bahan antibakteri yang efektif yang tidak mengiritasi atau campuran dari bahan-bahan tersebut untuk mencegah berkembang atau masuknya mikroorganisme dengan tidak sengaja yang masuk k edalam larutan, ketika wadah terbuka selama pemakaian. Pengawetan yang tepat dan konsentrasi maksimum dari pengawet untuk tujuan ini termasuk:
a) 0,013% benzalkonium klorida
b) 0,01% benzetonium klorida
c) 0,5% klorobutanol
d) 0,004% fenilmerkuri asetat
e) 0,004% fenilmerkuri nitrat
f) 0,01% timerosal
4. Tonisitas
Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air mata memiliki tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan. Besarnya adalah 0,65 – 0,8 M Pa (6,5 – 8 atmosfir), penurunan titik bekunya terhadap air 0,52° K atau konsentrasinya sesuai dengan larutan natrium klorida 0,9% dalam air. Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima daripada hipotonis. Larutan yang digunakan pada mata luka atau yang telah dioperasi menggunakan larutan isotonis. Pada larutan yang mengandung perak, kita memakia garam nitrat 1,2 – 1,6%.

5. Stabilitas
a) Pendaparan
Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3 – 9,7. Namun, daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima.
Larutan dapar berikut digunakan secara internasional:
• Dapar Natrium asetat – Asam borat, kapasitasnya tinggi di daerah asam.
• Dapar fosfat, kapasitasnya tinggi di daerah alkalis.

b) Viskositas dan aktivitas permukaan
Tetes mata dalam air mempunyai kekurangan karena dapat ditekan keluar dari saluran konjungtiva oleh gerakan pelupuk mata. Namun, melalui peningkatan viskositas tetes mata dapat mencapai distribusi bahan aktif yang lebih baik di dalam cairan dan waktu kontak yang panjang. Sebagai peningkat viskositas, kita memakai metilselulosa dan polivinilpirilidon (PVP) dan sangat disarankan menggunakan polivinilalkohol (PVA) 1-2%. Kita memakai larutan dengan viskositas 5-15 mPa detik (5-15 cP). Apabila zat padat sulit larut, maka kita dapat menambahkan Tween 80, polioksietilen 40, stearat dan benzalkonium klorida atau benzalkonium bromida.









BAB III
PRAFORMULASI
ZAT AKTIF

Neomycin sulfat
Sinonim : Fradiomycin Sulfate; Neomicin-szulfát; Neomicina, sulfato de;
Neomicino sulfatas; Neomycin Sulphate; Neomycin-sulfát; Neomycini Sulfas; Neomycinsulfat; Neomysiinisulfaatti
Rumus molekul : C23H46N6O13
Bobot Molekul : 614.6
Organoleptis
Bentuk : Serbuk atau padatan kering mirip es
Warna : Putih sampai agak kuning
Bau : Tidak berbau atau praktis tidak berbau
Rasa : Rasa amat pahit.
Kelarutan
Mudah larut dalam air, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam aseton, kloroform dan dalam eter



Sifat Kimia & Fisika
pH : antara 5,0 – 7,5
Kestabilan : Neomisin peka terhadap oksidasi udara. Setelah penyimpanan selama 24 bulan tidak terjadi kehilangan potensi (masih 99% dari potensi asli). Serbuk neomisin sulfat stabil selama tidak kurang dari3 tahun pada suhu 20°C. Neomisin sulfat dapat juga dipanaskan pada suhu 110°C selama 10 jam (yakni selama sterilisasi kering), tanpa kehilangan potensinya, meskipun terjadi perubahan warna. Neomisin cukup stabil pada kisaran pH 2,0 sampai 9,0. Menunjukkan aktivitas optimumnya pada kira-kira pH 7,0.
Farmakologi
Khasiat : - Anti Bakteri

OTT : Golongan anionik, sodium lauryl sulfat.
Dosis : 0,35% (DI 2003 hal 2604) ; 0,5 % (ISO)
Ekivalensi : 0,14
Cara sterilisasi : Filtrasi

ZAT TAMBAHAN :
 Benzalkonium Klorida
Pemerian : Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuning-kuningan bisa sebagai gel yang tebal atau seperti gelatin, bersifat higroskopis dan berbau aromatis dan rasa sangat pahit.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol 95%, bentuk anhidrat mudah larut dalam benzen dan agak sukar larut dalam eter.
OTT : aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas, fluoresin, H2O2, HPMC, iodide, kaolin, lanolin, nitrat.
Stabilitas : bersifat higroskopis dan mungkin dipengaruhi oleh cahaya, udara dan bahan logam. Larutannya stabil pada rentang pH dan rentang temperatur yang lebar. Larutannya dapat disimpan pada periode waktu yang lama dalam suhu kamar.
Konsentrasi : dalam sediaan preparat mata, benzalkonium klorida digunakan sebagai pengawet dengan konsentrasi 0,01%-0,02%, biasanya dikombinasi dengan 0,1%w/v disodium edetat.
Kegunaan : pengawet, antimikroba.
Sterilisasi : autoklaf
Ph : 5-8 untuk 10%w/v larutan
Wadah : tertutup rapat dan terhindar dari cahaya.

 Natrium Edetat
Pemerian : Serbuk kristal putih tidak berbau dengan sedikit rasa asam
Kelarutan : Larut dalam air (1:11), Praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, larut
dalam etanol (95%)
pH : 4,3-4,7 dalam larutan 1% air bebas CO2
Kegunaan : Untuk mencegah kontaminasi dengan logam
Stabilitas : Sangat higroskopis dan harus dilindungi dari kelembaban
OTT : dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam polifalen seperti tembaga,
nikel, Na EDTA merupakan asam lemah dan bereaksi dengan logam
membentuk hidrogen.
Sterilisasi : autoklaf

Penyimpanan : harus disimpan diwadah bebas alkali, tertutup rapat dan ditempat sejuk
dan kering.
Konsentrasi : 0,005-0,1% w/w sebagai chelating agent
Kegunaan : sebagai chelating agent

 AIR

1. Sinonim : aqua, Hidrogen Oxyde
CAS : [ 7732-18-5]
Berat molekul : 18,02
Rumus Molekul : H2O
Rumus Bangun: H – O – H
2. Bentuk : cairan jernih
Warna : tidak berwarna
Rasa : tidak beras
Bau : tidak berbau

3. Stabilitas : air stabil pada semua jenis subtansi
4. OTT : air dapat bereaksi dengan alkali
5. Kelarutan : Dapat bercampur dengan pelarut polar dan
elektrolit.
6. PH : 5,0 – 7,0
7. Fungsi : Sebagai zat pelarut



 RANCANGAN FORNAS
R/ tiap 10 ml mengandung :
Deksamethasoni Natrii Phosphas setara dexamethasoni phosphas 10 mg
Neomycini sulfas setara dengan neomycinum 35 mg
Benzalkonii Chloridum 2 mg
Natrii Bisulfis 32 mg
Aqua destilata hingga 10 ml

1.4. LEMBAR KERJA PENGKAJIAN PRAFORMULASI

BAHAN AKTIF : Neomycin sulfat DOSIS LAZIM
0,35% (DI 2003 hal 2604) ; 0,5 % (ISO)

TABEL I
No Masalah Diinginkan Pemecahan Pemilihan
1 Dibuat sediaan tetes mata steril Membuat sediaan yang cocok untuk stabilitas zat aktif • Sedian steril Volume Kecil
• Sedian steril Volume Besar Sedian steril Volume kecil

2 Rute pemberian untuk tetes mata steril

Sediaan harus digunakan dengan rute pemberian yang sesuai Rute pemberian yang benar
Im
Iv
guttae guttae
3 Sediaan dibuat obat tetes mata steril Dapat tercampur dengan konsentrasi dalam tubuh Dibuat sediaan yang bersifat
 Isotonis
 Hipotonis
 hipertonis isotonis
4. Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya mikroorganisme Sediaan steril terhindar dari mikroorganisme Dilakukan proses sterilisasi
• sterilisasi aseptis
• sterilisasi akhir Sterilisasi aseptis


DATA ZAT AKTIF

Daftar obat Dosis Lazim Kelarutan pH Jenis sterilisasi khasiat
Neomycin sulfat
0,35% (DI 2003 hal 2604) ; 0,5 % (ISO) Mudah larut dalam air, sangat sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam aseton, kloroform dan dalam eter
antara 5,0 – 7,5 Aseptis Anti Bakteri



Alat dan cara Sterilisasi

Nama Alat Jumlah Cara sterilisasi
Kaca arloji
Beaker glass
Erlenmeyer
Spatula
Batang pengaduk
Pinset
Gelas ukur
Spuit
Corong dan kertas saring
Ampul 2
2
2
1
1
1
2
1
1
2 Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Formulasi Akhir
R/ Neomycin sulfat 0,5 % = 0,05 gr
Benzalkonium Klorida 0,01 % = 0,001 gr
Natrium Edetat 0,1 % = 0,01gr
Na metabisulfit 0,1 % = 0,01 gr
NaCl ad isotonis 0,7384 % = 0,07384 g
Aqua p.i ad. 10 ml
Perhitungan
V = (n x c) + 6
= ( 2 x 10,5 ) + 6
= 27 ≈ 30 ml

Tonisitas
E neomycin sulfate = 0,14
E Benzalkonium Klorida = 0,16
E Natrium Edetat = 0,23
E Na metabisulfit = 0,67
V = W x E x 111,1
= [(0,05 x 0,14) + ( 0,001 x 0,16) + (0,01 x 0,23) + (0,01 x 0,67) x 111,1
= 0,01616 X 111,1
= 1,7954 ml
% tonisitas = 1,7954/10 ml x 0,9 % = 0,1616 % ( hipotonis )
% NaCl = 0,9 % - 0,1616 % = 0,7384 %
NaCl = 0,07384 g

Rumus lain Tonisitas
% Tonisitas = [( 0,5 x 0,14) + (0,01 x 0,16 ) + ( 0,1 x 0,23 ) + ( 0,1 x 0,67 )]
= 0,07 + 0,0016 + 0,023 + 0,067
= 0,1616 ( Hipotonis )
% NaCl = 0,9 % - 0,1616 %
= 0,7384 %
NaCl = 0,07384 gr


Perhitungan Bahan – Bahan
- Neomycin sulfat = 0,05 g x 30 ml = 1,5 gram
- Benzalkonium Klorida = 0,001 g x 30 ml = 0,03 gram
- Natrium Edetat = 0,01 g x 30 ml = 0,3 gram
- Na metabisulfit = 0,01 g x 30 ml = 0,3 gram
- NaCl ad isotonis = 0,07384 g x 30 ml = 2,2152 gram
- Aqua pro injeksi ad 30 ml

Penimbangan
- Neomycin sulfat = 1,5 gram
- Benzalkonium Klorida = 0,03 gram
- Natrium Edetat = 0,03 gram
- Na metabisulfit = 0,03 gram
- NaCl ad isotonis = 2,415 gram




PROSEDUR KERJA
1. Menyiapkan alat dan bahan yang hendak digunakan
2. Menyiapkan Aqua Pro Injeksi bebas O2 dengan cara : ( Catatan : Dilakukan pada White Area )
a. Memanaskan 50 ml aquades diatas hotplate sampai mendidih.
b. Menghitung waktu pemanasan selama 30 menit (waktu mulai dihitung setelah air mendidih).
c. Memanaskan lagi selama 10 menit agar diperoleh API bebas O2.
3. Melakukan Sterilisasi aseptis dimana alat-alat yang akan digunakan disterilkan didalam autoklaf (untuk alat presisi) dan oven (untuk alat nonpresisi) selama 30 menit.
Catatan: Sebelum dimasukkan ke dalam autoklaf atau oven, terlebih dahulu alat-alat tersebut dibungkus dengan kertas perkamen.
4. Menimbang masing-masing bahan dengan neraca timbangan dengan tepat sesuai jumlah yang diperlukan, kemudian menampungnya dengan kaca arloji yang sebelumnya telah disterilkan secara aseptis.
5. Melarutkan bahan aktif dan zat tambahan, yaitu neomycin sulfate, Natrium Edetat, dan Na metabisulfit dengan API scukupnya sampai larut.
6. Setelah larut homogen, tambahkan pengawet Benzalkonium Klorida kemudian mengecek pH-nya.
7. Menyaring larutan tersebut dengan kertas saring yang telah dijenuhkan dengan API sebelumnya dan kemudian menampungnya dalam gelas ukur.
8. Menambahkan API sampai volume tercapai 30 ml
9. Memipet 10 ml larutan kemudian memasukannya ke dalam botol berpipet yang khusus digunakan untuk sediaan tetes mata.
10. Memberi etiket





ETIKET















BAB IV
EVALUASI
1. API
Dibuat API bebas O2 dengan cara memanaskan aquades secara bertahap selama 30 menit dihitung setelah air mulai mendidih dan ditambah 10 menit lagi.
( Disajikan dalam Lembar Penyediaan Aqua Pro Injeksi )

2. Sediaan
Sediaan dibuat dalam Botol tetes mata gelap dengan volume 10 ml
Sediaan berupa injeksi volume kecil ( Guttae )
Volume : 10 ml
Warna : jernih
Semua bahan aktif agak sukar larut baik dalam pembawa serta bebas partikel melayang

3. Sterilisasi
Dilakukan Sterilisasi akhir dengan Autoklaf
Temperatur : 115 - 116
Waktu : 30 menit




BAB V
PEMBAHASAN



















BAB VI
KESIMPULAN



















DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Ansel, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. 1989. Jakarta : UI-Press.
Department of Pharmaceutical Sciences. Martindale The Extra Pharmacopoeia, twenty-eight edition. 1982. London : The Pharmaceutical Press.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
Taketomo, Carol K.Pediatric Dosage Handbook.Ed VIII.2001.USA; American Pharmaceutical Association.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press

Injeksi Vit.E laporan 2

LAPORAN PRAKTIKUM STERIL
FORMULASI INJEKSI VITAMIN E








Disusun Oleh:

PROGRAM STUDY FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010






BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan unutk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntuikkan seperti berbagai sediaan yang diberikan dengan disuntikkan. Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik.
Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.
Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita. Indikasi pada keadaan defisiensi yang dapat terlihat dari kadar serum yang rendah dan atau peningkatan fragilitas eritrosit terhadap hydrogen peroksida (pada bayi prematur dengan berat badan yang rendah, pada penderita-penderita dengan sindrom malabsorpsi dan steatore, dan penyakit dengan gangguan absorpsi lemak).



1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam praktikum ini adalah untuk :
1. Memperoleh gambaran mengenai praformulasi suatu zat obat serta membuat dan mengevaluasi hasil dari sediaan yang dibuat.
2. Mengetahui mengenai pengertian, pembagian, cara pembuatan, perhitungan dosis, sterilisasi dan penyerahan suatu sediaan obat parenteral, khususnya injeksi.
3. Agar dapat menyalurkan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dalam bentuk pengamatan dan penyusunan makalah berdasarkan dasar-dasar teori dalam mata kuliah teknologi sediaan steril.

1.3 Tujuan Formulasi Sediaan
Formulasi sediaan disusun berdasarkan zat aktif yang digunakan, sehingga perlu diperhatikan ada atau tidaknya interaksi yang terjadi dengan zat tambahan yang digunakan agar obat/sediaan dapat digunakan secara efektif dan dapat memenuhi syarat-syarat resmi.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Dasar
Injeksi adalah sediaan steril yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau melalui selaput lendir. Injeksi dapat berupa emulsi, larutan, atau serbuk steril yang dilarutkan atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan. Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan untuk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral meneunjukkan pemberian lewat suntikan. Kata ini bersal dari bahasa yunani, para dan enteron berarti diluar usus halus dan merupakan rute pemberian lain dari rute oral.
Syarat-syarat obat suntik :
Aman, tidak boleh memyebabkan iritasi jaringan atau efek tosis
Harus jernih, tidak terdapat partikel padat kecuali berbentuk suspensi
Tidak berwarna kecuali bila obatnya berwarna
Sedapat mungkin isohidri
Sedapat mungkin isotonis
Harus steril
Bebas pirogen

Pelarut yang digunakan untuk sediaan injeksi yaitu pelarut air dan pelarut bukan air (minyak). Steril Water for Injection,USP adalah air untuk obat suntik yang telah disterilkan dan dikemas dalam wadah-wadah dosis tunggal yang tidak lebih besar dari ukuran 1 liter.seperti air untuk obat suntik,harus bebas pirogen dan tidak boleh mengandung zat antimikroba atau zat tambahan lain. Air ini boleh menagndung sedikit lebih banyak zat pada total daripada air untuk obat suntik karena terjadinya pengikisan zat padat dari lapisan gelas tangki selama proses sterilisasi. Air ini dimaksudkan untuk digunakan sebagai pelarut, pembawa atau pengencer obat suntik yang telah disteril dan dikemas.dalam penggunaannya, air ditambahkan secara aseptis ke dalam vial obat untuk membentuk obat suntik yang diinginkan.


Pelarut dan Pembawa Bukan Air
Minyak : Olea neutralisata ad injectionem
Minyak untuk injeksi adalah minyak lemak nabati atau ester asam lemak tinggi, alam atau sintetik harus jernih pada suhu 10oC.
Minyak untuk injeksi harus memenuhi syarat sebagai berikut:
1. Harus jernih pada suhu 10oC
2. Tidak berbau asing atau tengik
3. Bilangan asam 0,2-0,9
4. Bilangan iodium 79-128
5. Bilangan penyabunan 185-200
6. Harusbbebas minyak mineral
Macamnya :
• Oleum Arachidis (minyak kacang)
• Oleum Olivarum (minyak zaitun)
• Oleum Sesami (minyak wijen), dan sebagainya

Syarat-syarat untuk ini adalah
• Tingkat kemurnian yang tinggi
• Bilangan asam dan bilangan peroksida yang rendah.
• Minyak harus netral secara fisiologis dan dapat diterima tubuh dengan baik.

Sebelum memakainya, kita netralkan minyak-minyak dari asam lemak bebas melalui pengocokan dengan etanol supaya tidak merangsang. Pemakaiannya secara intravena tidak dimungkinkan karena tidak tercampurkannya dengan serum darah dan dapat menyebabkan emboli paru-paru. Oleh karena itu, penggunaannya hanya ditujukan untuk preparat injeksi intramuscular dan subkutan. Larutan atau suspensi minyak mempunyai wakru kerja lama ( depo ), sering sampai 1 bulan penyerapan obat dalam membebaskan bahan penyerapan obat dan membebaskan bahan aktifnya secara lambat.
Minyak hewan atau minyak kaki sapi, diperoleh dari perdagangan hasil pemurnian lapisan lemak kuku sapi atau tulang kaki bawah. Fraksi yang diperoleh melalui pengepresan dingin digunakan sebagai bahan pelarut obta injeksi yang dapat diterima tubuh tanpa rangsangan. Minyak setelah disterilkan disebut Olea netralisata ad injectione.
Vitamin E mudah didapat dari bagian bahan makanan yang berminyak atau sayuran. Vitamin E banyak terdapat pada buah-buahan, susu, mentega, telur, sayur-sayuran, terutama kecambah. Contoh sayuran yang paling banyak mengandung vitamin E adalah minyak biji gandum, minyak kedelai, minyak jagung, alfalfa, selada, kacang-kacangan, asparagus, pisang, strawberry, biji bunga matahari, buncis, ubi jalar dan sayuran berwarna hijau. Vitamin E lebih banyak terdapat pada makanan segar yang belum diproses. Satu unit setara dengan 1 mg alfa-tocopherol asetat atau dapat dianggap setara dengan 1 mg. Selain itu ASI juga banyak mengandung vitamin E untuk memenuhi kebutuhan bayi. Dalam perkembangannya, Vitamin E diproduksi dalam bentuk pil, kapsul, dan lain-lain sebagaimana vitamin-vitamin yang sudah terlebih dahulu ada. Vitamin yang sudah dikemas dalam berbagai bentuk ini banyak dijual bebas di pasaran. Dengan penggunaan yang tepat, vitamin E dalam kemasan akan sangat berguna.
Vitamin E dapat meningkatkan daya tahan tubuh, membantu mengatasi stres, meningkatkan fertilitas, meminimalkan risiko kanker dan penyakit jantung koroner. Vitamin E juga memiliki peran sangat penting bagi kesehatan kulit, yaitu dengan menjaga, meningkatkan elastisitas dan kelembapan kulit, mencegah proses penuaan dini, melindungi kulit dari kerusakan akibat radiasi sinar ultraviolet, serta mempercepat proses penyembuhan luka . Semua vitamin E adalah antioksidan dan terlibat dalam banyak proses tubuh dan beroperasi sebagai antioksidan alami yang membantu melindungi struktur sel yang penting terutama selaput sel dari kerusakan akibat adanya radikal bebas. Vitamin ini larut dalam lemak. Kelarutannya dalam lemak merupakan sifat yang menguntungkan karena sebagian besar kerusakan akibat radikal bebas terjadi di dalam membran sel dan lipoprotein yang terbuat dari molekul lemak. Vitamin E juga mampu melindungi sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh jaringan tubuh dari kerusakan. Selain bisa melindungi dari efek kelebihan vitamin A dan melindungi vitamin A dari kerusakan, vitamin ini juga bisa melindungi hewan dari efek berbagai obat, bahan kimia, dan logam yang mendukung pembentukan radikal bebas.
Dalam melaksanakan fungsinya sebagai antioksidan dalam tubuh, vitamin E bekerja dengan cara mencari, bereaksi dan merusak rantai reaksi radikal bebas. Dalam reaksi tersebut, vitamin E sendiri diubah menjadi radikal. Namun radikal ini akan segera beregenerasi menjadi vitamin aktif melalui proses biokimia yang melibatkan senyawa lain. Kekurangan vitamin E akan menimbulkan efek yang sangat buruk. Ketika kadar vitamin E dalam darah sangat rendah, sel darah merah dapat terbelah. Proses ini disebut hemolisis eritrodit dan dapat dihindari dengan vitamin E. Akibat lain kekurangan vitamin E adalah: perubahan degeneratif pada sistem saraf dan otot, kelemahan dan kesulitan berjalan, nyeri pada otot betis, gangguan penglihatan, anemia, retensi cairan (odem), dan kelainan kulit
Pada bayi, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan kelainan yang mengganggu penyerapan lemak pada bayi yang prematur dan kekurangan gizi. Namun kekurangan vitamin E sesungguhnya sangat jarang terjadi karena vitamin ini banyak terdapat dalam makanan, terutama dalam minyak sayur. Pada manusia kekurangan vitamin E bisa disebabkan karena diet yang sangat buruk dalam jangka waktu lama. Dosis vitamin E yang besar bisa memperbaiki dan mencegah terjadinya perkembangan kelainan saraf. Beberapa penelitian menunjukan bahwa peningkatan konsumsi vitamin E dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Pada umumnya vitamin E dianggap sebagai bahan yang cukup aman. Dalam beberapa kasus, kelebihan vitamin E menimbulkan gangguan pada kinerja sistem imun terhadap infeksi. Gejala yang akan dirasakan adalah sakit kepala, lemah dan selalu lelah, serta pusing yang disertai gangguan penglihatan. Untuk itu, jumlah vitamin E dalam tubuh harus berada dalam batasan yang ketat.

BAB III
PRAFORMULASI

3.1 BAHAN AKTIF
ALFA TOCOFEROL

 Sifat Kimia
Nama Lain : Vitamin E
Rumus Molekul : C29H50O2
Berat Molekul : 430,69
 Sifat Fisika
a. Organoleptis
Bentuk : Cairan seperti minyak ;
Bau : Tidak berbau atau sedikit berbau
Warna : kuning, jernih.
Rasa : tidak berasa atau sedikit berasa
Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam air; sukar larut dalam larutan alkali, larut dalam etanol, dalam eter dan dalam minyak nabati; sanagt mudah larut dalam kloroform.
b. Kestabilan : tidak stabil terhadap cahaya terutama suasana alkalis, Mudah teroksidasi, Tidak stabil dalam air
c. pH :
d. Titik lebur :
 Sifat Farmakologi dan Farmakokinetik
a. Khasiat
Bahan aktif sebagai anti oksidan.
b. Efek Samping
Pada penggunaan jangka lama dan dosis besar dapat menyebabkan kelemahan otot, gangguan pencernaan, gangguan reproduksi.
c. Tempat absorps
Saluran pencernaan
d. Interaksi obat
- Dengan antikoagulan : Efek antikoagulan dapat meningkat. Antikoagulan digunakan
untuk mengencerkan darah dan mencegah pembekuan darah. Akibatnya resiko
pendarahan akan meningkat.
- Dengan vit A : Aktifitas vitamin A akan meningkat.
- Dengan minyak mineral ( pencahar) : penyerapan vit E akan berkurang.
- Dengan vit C: aktifitas vitamin E akan meningkat.
- Dengan besi : aktifitas vitamin E akan menurun.
e. OTT

f. Indikasi
Untuk pencgahan dan pengobatan kekurangan vitamin E dan Zinc, membantu memelihara kulit, menjaga fertilitas dan anti oksidan.

 Wadah dan Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, tak tembus cahaya.
 Dosis
Dosis Lazim (1XHP) : 1 – 2 mg/kgBB
 Cara penggunaan : IM
 Cara sterilisasi : Sterilisasi A ( autoklaf ) dan C ( Filtrasi )

RANCANGAN FORMULASI
R/ Vitamin E 80 mg
Olium ad. 30 ml

1.4. LEMBAR KERJA PENGKAJIAN PRAFORMULASI

BAHAN AKTIF : alfa tokoferol DOSIS LAZIM
Vitamin E Dewasa (1XHP) : 1 mg – 2 mg

TABEL I
Masalah Diinginkan Alternatif Pilihan Alasan
Zat aktif larut air Dipakai sediaan steril • SPVK
• SPVB SPVK Akan dibuat sediaan injeksi dosis tunggal
Zat aktif akan dibuat SPVK Sediaan injeksi • Pelarut air
• Pelarut non air Injeksi pelarut non air Karena zat aktif lebih mudah larut dalam pelarut non air
Pemberian obat harus tepat sasaran Sediaan obat dapat diberikan sesuai dan tepat sasaran • IV
• IM IM Melalui IM secara kuantitatif hasil absorpsi baik dan bioafvaibilitas obat mencapai 80 – 100 %
Zat aktif dibuat sediaan injeksi Bebas kuman, pirogen dan mikroorganisme • Sterilisasi akhir
• Aseptis Sterilisasi Aseptis Zat aktif tidak tahan pemanasan
Zat aktif terurai jika terkena cahaya Tidak terurai oleh cahaya • Ampul berwarna gelap.
• Ampul berwarna bening Ampul berwarna gelap Agar sediaan stabil dan tidak terurai oleh cahaya



DATA ZAT AKTIF

Daftar obat Dosis Lazim Kelarutan pH Jenis sterilisasi khasiat
Alfa tokoferol Dewasa (1XHP) : 1 mg – 2 mg Praktis tidak larut dalam air; sukar larut dalam larutan alkali, larut dalam etanol, dalam eter dan dalam minyak nabati; sanagt mudah larut dalam kloroform. Aseptis Bahan aktif sebagai anti oksidan.











TABEL II

SPESIFIKASI DAN SYARAT SEDIAAN YANG DIINGINKAN

NO. Nama Produk Alfa Injecsi
Bentuk sediaan Injeksi

Bahan Aktif Vitamin E

Kemasan Vial 2 ml


Pemeriksaan SPESIFIKASI SYARAT
Warna Tidak berwarna
Tidak berwarna










Alat dan cara Sterilisasi

Nama Alat Jumlah Cara sterilisasi
Kaca arloji
Beaker glass
Erlenmeyer
Spatula
Batang pengaduk
Pinset
Gelas ukur
Spuit
Corong dan kertas saring
Ampul 2
2
2
1
1
1
2
1
1
2 Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Autoklaf 115 – 116 0 C , 30 ’
Oven 170 0 C, 30 ’



Formulasi Akhir
R/ Vitamin E 80 mg
Olium aracidis ad. 30 ml



Perhitungan dosis

Volume yang akan dibuat : ( n + 2 ) V’ + ( 2 X 3 )
( 2 + 2 ) 5,5 + 6
22 + 6
28 ml ≈ 30 ml


Penimbangan Bahan
Thiamin HCl = 80 mg x 2 = 160 mg
Olium aracidis = ad 30 ml

Prosedur Kerja :

1 Mensterilkan alat – alat sesuai prosedur pensterilan alat.
2 Timbang zat aktif menggunakan kaca arloji, kemudian masukkan ke dalam gelas piala. Kaca arloji kemudian dibilas.
3 Tuangkan sebagian olium untuk melarutkan zat yang ditimbang.
4 Larutan zat dituangkan ke dalam gelas ukur, catat volume larutan.
5 Isikan larutan kedalam ampul .
6 Aliri gas nitrogen ( jika perlu )
7 Tutup ampul.
8 Sterilkan menurut metode.










BAB IV
EVALUASI
1. Potensi/kadar
Penentuan kadar dilakukan dengan SP UV, HPLC, SP IR dll
2. Warna
Perubahan warna umumnya terjadi pada sediaan parenteral yang disimpan pada suhu tinggi (> 40 oC). Suhu tinggi menyebabkan penguraian
3. Kekeruhan
Alat yang dipakai adalah Tyndall, karena larutan dapat menyerap dan memantulkan sinar. Idealnya larutan parenteral dapat melewatkan 92-97% pada waktu dibuat dan tidak turun menjadi 70% setelah 3-5 tahun. Terjadinya kekeruhan dapat disebabkan oleh : benda asing, terjadinya pengendapan atau pertumbuhan mikroorganisme.
4. Bau
Pemeriksaan bau dilakukan secara periodik terutama untuk sediaan yang mengandung sulfur atau anti oksidan
5. Toksisitas
Lakukan uji LD 50 atau LD 0 pada sediaan parenteral selama penyimpanan
6. Evaluasi wadah

Namun pada praktikum kali ini uji evaluasi yang hanya dilakukan adalah :
1. Warna
Tidak terjadi perubahan warna pada sediaan setelah disimpan. Warna masih menunjukkan warna seperti semula yakni kuning.
2. Evaluasi wadah
Wadah yang digunakan cukup rapat dan baik yakni tidak mengalami kebocoran. Vial yang digunakan vial bening .

BAB V
PEMBAHASAN



















BAB VI
KESIMPULAN
Kesimpulan


















DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Ansel, Howard C. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. 1989. Jakarta : UI-Press.
Department of Pharmaceutical Sciences. Martindale The Extra Pharmacopoeia, twenty-eight edition. 1982. London : The Pharmaceutical Press.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.
Depkes RI. Farmakope Indonesia Ed III.1979.Jakarta.
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
Taketomo, Carol K.Pediatric Dosage Handbook.Ed VIII.2001.USA; American Pharmaceutical Association.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press

OTM Garamycin laporan 2

I. Tujuan praktikum
1. Mampu melaksanakan praktikum teknologi sediaan steril dalam bentuk sediaan obat tetes mata.
2. Mampu menyusun hasil pengkajian praformulasi bahan aktif gentamisin untuk sediaan obat tetes mata.
3. Mampu membuat rekomendasi untuk desain komponen sediaan, proses pembuatan dan evaluasi sediaan obat tetes mata.
4. Mampu menyusun desain formula pembuatan dan evaluasi obat tetes mata dari hasil pengkajian praformulasi.
5. Mampu melaksanakan pembuatan sediaan obat tetes mata
6. Mampu melakukan evaluasi sediaan obat tetes mata.


II. DASAR TEORI
Guttae adalah sediaan cair berupa larutan, emulsi, atau suspensi yang dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan dan menggunakan penetes.
Obat tetes mata (guttae ophthalmicae) termasuk guttae untuk obat luar; untuk jenis yang lainnya ada juga tetes telinga (guttae auricularis), tetes hidung (guttae nasales), dan tetes mulut (guttae oris).
Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. (FI III, hal 10). Maksud penggunaan obat tetes mata adalah untuk memudahkan penggunaan, hanya dengan meneteskan saja dan untuk efek lokal, misalnya peradangan pada konjungtiva mata. Obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Steril.
• Larutan tetes mata harus jernih dan bebas partikel.
• Sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata yaitu pH 7,4. Sedangkan pH yang masih bisa ditolerir adalah 3,5 – 10,5. (The Pharmaceutical Codex, p. 163).
• Sedapat mungkin isotonis, yang masih bisa diterima adalah 0,7 – 1,5 %. (TPC, p.163).
• Tetes mata yang berupa suspensi, bahan yang tidak larut haruslah sangat halus, hal ini dimaksudkan untuk mengurangi rangsangan terhadap mata sehingga air mata tidak banyak keluar.
Sediaan obat tetes mata dapat mengandung obat dengan efek terapi: antiperadangan, antimikroba, miotik (menyempitkan pupil mata), midriatika (melebarkan pupil mata), dan anestesi (bius) lokal, serta dapat digunakan untuk diagnosis.
Secara umum, obat tetes mata tidak boleh digunakan lebih dari satu bulan setelah tutup dibuka. Khusus untuk sediaan obat tetes mata yang berbentuk suspensi, sebelum digunakan haruslah dikocok terlebih dahulu.
Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Zat tambahan yang biasa dipakai adalah dapar pH, pengatur tonisitas (NaCl), pengatur viskositas (contoh PEG, PVP), pengatur tegangan permukaan dan pengawet.
Cairan mata isotonik dengan darah dan nilai isotonisitasnya sama dengan larutan NaCl P 0,9 %. Tujuan penggunaan dapar pH adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Garam alkaloid paling efektif pada pH optimal untuk pembentukan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dan dipertahankan tetap dengan penambahan dapar. Air mata mempunyai kapasitas dapar yang baik. Obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan akan terjadi dengan cepat asalkan kapasitas dapar larutan obat tersebut kecil (jumlah mol asam dan basa konjugat dari pendapar kecil). Garam alkaloid bersifat asam lemah dan kapasitas daparnya lemah. Satu atau dua tetes larutan obat mata ini akan dinaikkan pHnya oleh air mata. Dalam menyiapkan dapar dengan pH yang diinginkan, harus dipilih sistem asam garam yang pKa-nya mendekati pH yang diinginkan agar angka banding asam terhadap garam mendekati satu dan diperoleh keefektifan maksimal terhadap penaikan dan penurunan pH.
Sediaan tetes mata mempunyai banyak persamaan dengan sediaan parenteral. Formulasi sediaan tetes mata yang stabil memerlukan bahan-bahan yang sangat murni seperti bebas dari kontaminan kimia, fisik (partikel), dan mikroba. Sediaan tetes mata digunakan dalam jumlah yang besar, seperti irigan mata, atau dalam pemeliharaan peralatan seperti lensa kontak. Beberapa pertimbangan dalam pembuatan obat mata:
1. Sterilitas
Sediaan harus dikerjakan seaseptis mungkin dan dilakukan proses sterilisasi yangsesuai. Cara sterilisasi yang sering digunakan untuk obat tetes mata adalah pemanasan dengan otoklaf, pemanasan dengan bakterisida, dan penyaringan.
2. Iritasi
pH sediaan yang tidak cocok dengan air mata akan mengakibatkan iritasi yang disertai dengan keluarnya air mata. Difusi obat akan terhalang sehingga jumlah obat tidak efektif.
3. Pengawet
Pengawet perlu ditambahkan khususnya untuk obat tetes mata dosis ganda. Syarat pengawet: efektif dan efisien, tidak berinteraksi dengan bahan aktif atau bahan pembantu lainnya, tidak iritan terhadap mata, dan tidak toksis.


III. Data praformulasi (Gentamisin sulfat, FI. IV hal. 406; FI. III hal. 266; Martindale hal. 1166)
A. Data zat aktif
Pemerian : Serbuk putih sampai kekuning-kuningan
Kelarutan : Larut dalam air, tidak larut dalam etanol, garam aseton, dalam kloroform, dalam eter dan dalam benzene.
Khasiat : Antibiotikum
Kontraindikasi : Kehamilan
Efek samping : Gangguan vestibuler dan pendengaran, nefrotaksisitas.
Dosis : 2 – 5 mg/kg/hari (dosis terbagi setiap 8 jam) untuk dosis parental.
Wadah dan penyimpanan: Wadah tertutup rapat dan terhindar dari panas.
pH : 3,5-5,5; 6,5-7,5 (untuk tetes mata)
Sterilisasi : Filtrasi
Konsentrasi : 0,3 %
Stabilitas : Stabil pada suhu 40C dan 250C
OTT : Amfoterisin, Sefalosporin, Eritromisin, Heparin,Penisilin, Sodium bikarbonat dan Sulfadiazin sodium
Khasiat : Antibakteri




B. Data Zat Tambahan
1. Benzalkonium Klorida (Handbook of Pharmaceutical Exipient, hal. 27)
Pemerian : Serbuk amorf berwarna putih atau putih kekuning-kuningan bisa sebagai gel yang tebal atau seperti gelatin, bersifat higroskopis dan berbau aromatis dan rasa sangat pahit.
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air dan etanol 95%, bentuk anhidrat mudah larutdalam benzene dan agak sukar larut dalam eter.
OTT : aluminium, surfaktan anionik, sitrat, kapas, fluoresin, H2O2, HPMC, Iodide, kaolin, lanolin, nitrat.
Stabilitas : bersifat higroskopis dan mungkin dipengaruh
oleh cahaya, udara, dan bahan logam. Larutannya stabil pada
rentang pH dan rentang tempratur yang lebar. Larutannya dapat
disimpan pada periode waktu yang lama dalamsuhu kamar.
Konsentrasi : dalam sediaan preparat mata, benzalkonium
klorida digunakan sebagai pengawet dnegan konsentrasi 0, 01
0,02 %, biasanya dikombinasi dengan0,1% w/v disodium edetat.
Kegunaan :Antimikroba, pengawet
Sterilisasi : autoklaf
pH : 5-8 (untuk 10% w/v larutan)
Wadah : tertutup rapat dapat terhindar dari cahaya.
Catatan : benzalkonium klorida tidak dapat dicampur dengan anastetikum lokal.

2. Sodium metabisulfit (Handbook of Pharmaceutical Exipients hal. 451)
Pemerian : Tidak berwarna, berbentuk kristal prisma atau serbuk kristal berwarna putih hingga putih kecoklatan yang berbau sulfur dioksida dan asam.
Kelarutan : Agak mudah larut dalam etanol, mudah larut dalam gliserin, dan sangat mudah larut dalam air.
Kegunaan : Antioksidan
Konsentrasi : 0,01-1,0%
pH : 3,5 – 5,0
Stabilitas : Teroksidasi secara perlahan dalam udara panas dan lembab
Penyimpanan : simpan di tempat yang sejuk dan kering.
OTT : Derivat alkohol, kloramfenikol, dan fenil merkuri asetat.
Sterilisasi : Autoklaf
Ekivalensi : 0,7

3. Natrium Edeta (Handbook of Pharmaceutical Exipients hal. 178)
Pemerian : Serbuk kristal putih tidak berbau dengan sedikit rasa asam.
Kelarutan : Larut dalam air (1 : 11), praktis tidak larut dalam kloroform dan eter, larut dalam etanol (95%)
Kegunaan : Pencegah kontaminasi logam / pengkelat
Konsentrasi : 0,005 – 0,1% w/w sebagai chelating agent
pH : 4,3 – 4,7 dalam 1% larutan bebas CO2
Stabilitas : Teroksidasi secara perlahan dalam udara panas dan lembab
Penyimpanan : Harus disimpan di wadah bebas alkali, tertutup rapat dan di tempat sejuk dan kering.
OTT : Dengan pengoksidasi kuat, dan ion logam polifalen seperti tembaga, nikel, Na EDTA merupakan asam lemah dan bereaksi dengan logam membentuk hidrogen.
Sterilisasi : Autoklaf

4. Natrium Fosfat atau dinatrium hidrogen Fosfat (Na2HPO4)
Pemerian : Hablur tidak berwarna, tidak berbau, rasa asin.
Kelarutan : Larut dalam 5 bagian air, sukar larut dalam etanol (95%) P
Kegunaan : Pendapar (berupa garam)
pH : 0 – 9,2

5. Kalium Dihidrogen Fosfat (KH2PO4)
Pemerian : Serbuk hablur putih.
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Kegunaan: Pendapar (berupa garam)
pH : 4,4



IV. Pengkajian Praformulasi
No. Masalah Diinginkan Pilihan Pemecahan Pilihan Alasan
1. Sediaan dibuat steril Bebas dari mikroba, dan pirogen. Disempurnakan dengan proses sterilisasi. - sterilisasi akhir
- aseptis Sterilisasi akhir dengan autoklaf Cukup efisien, dan tidak mempengaruhi zak aktif.
2. Sediaan dibuat untuk obat tetes mata Membuat sediaan obat mata yang praktis dan banyak diminati - obat tetes mata
- salep mata Obat tetes mata. Zat aktif dan eksipien yang digunakan larut air, Penggunaan sediaan praktis, merupakan pilihan utama sediaan obat mata.
3. Sediaan dibuat dalam dosis ganda Tetap steril tidak terkontaminasi mikroba selama penggunaan. Diberikan pengawet
- fenil merkuri nitrat asetat (0,002%)
- benzalkonium klorida Benzalkonium klorida (0,01%) Lebih aman dan spesifik untuk obat tetes mata, sifat antibakterinya dapat ditingkatkan dengan penambahan dinatrium EDTA. Selain itu, benzalkonium klorida efektif dalam dosis kecil, bereaksi sebagai antimikroba sangat cepat dan stabilitas tinggi pada rentang pH lebar.
3. Zat aktif dapat mengalami penguraian oleh udara dan suhu panas. Sediaan stabil selama penyimpanan. Ditambahkan antioksidan
- Natrium metabisulfit
- Asam askorbat Natrium metabisulfit Natrium metabisulfit dapat difungsikan juga sebagai zat yang mencegah terjadinya perubahan warna sediaan menjadi cokelat setelah prses pemanasan.
4. Zat aktif dan eksipien memiliki pH yang bervariasi Sediaan obat yang mendekati pH air mata (7,4). Diinginkan : 7. Ditambahkan pendapar
- Dapar Fosfat
- Dapar sitrat Dapar fosfat (KH2PO4 dan Na2HPO4) Tidak OTT dengan zat aktif, konsentrasi penggunaan cukup rendah (secara signifikan dapat mengubah pH sediaan)
5. Tonisitas sediaan yang harus distabilkan. Sediaan yang isotonis terhadap cairan mata (air mata) Ditambahan zat pengisotoni
- NaCl
- KCl NaCl NaCl merupakan pengisotoni yang baik, umum digunakan, tidak OTT dengan zat aktif, dan dapat menurunkan kapasitas dapar yang digunakan.
6. Penandaan berdasarkan golongan obat. Penandaan yang sesuai sebagai petunjuk penggunaan oleh konsumen -obat keras
-obat bebas
-obat bebas terbatas Obat keras
Pemakaian obat harus disertai dengan cara pakai spesifik. (dengan resep dokter).


V. Formulasi
1. Data Zat Aktif
DAFTAR OBAT KELARUTAN pH JENIS STERILISASI KHASIAT


Gentamicin Sulphate Larut dalam air, tidak larut dalam etanol, dalam aseton, kloroform, eter dan dalam benzene. 6.5 dan 7.5 Filtrasi atau Sterilisasi awal dengan cara aseptis Antibakteri

2. Contoh Formula
a. Gentamicin Eye/Ear Drops
Each ml Contains : Gentamicin Sulphate BP, Eq.to Gentamicin 0.3% w/v, Phenyl Mercuric Nitrate BPO.002% w/v (As Preservative), Use antibacterial, packaging 10 ml.
b. Genteye-H Eye/Ear Drops
Gentamicin Sulphate USP, Eq.to Gentamicin Base 0.3% w/v, Hydrocortisone Acetate USP 1% w/v, Benzalkonium chloride NF 0.1% w/v (As Preservative), Use antibacterial, packaging 5 ml.
c. Gentamicin Sulfate Ophthalmic Solution

3. Usul penyempurnaan sediaan
• Formula yang dibuat perlu penambahan pengawet, karena sediaan yang dibuat dosis ganda dan ditingkatkan dengan penggunaan dinatrium EDTA.
• Ditambahkan antioksidan agar tidak teroksidasi dan mencegah terjadinya pencoklatan karena pemanasan dari gentamicin.
• Ditambahkan dapar fosfat agar mempertahankan pH sediaan
• Ditambahkan zat pengisotonis yaitu NaCl

4. Alat dan cara serilisasinya
Masing-masing alat harus disterilkan terlebih dulu, karena metode yang digunakan adalah sterilisasi secara aseptis
STERILISASI ALAT
NAMA ALAT JUMLAH STERILISASI SUHU (0 C) WAKTU (Menit)
Beaker glass 3 Oven 170 30
Cawan penguap 4 Oven 170 30
Batang pengaduk 2 Oven 170 30
Erlenmeyer 2 Oven 170 30
Kertas saring 1 - - -
Gelas Ukur 2 Autoklaf 115 – 116 30
Jarum suntik 1 Autoklaf 115 – 116 30
Corong 1 Oven 170 30
Botol OTM 1 Rendam dalam etanol - -
Pipet tetes tanpa karet 1 Autoclave 115-116 30
Karet pipet 1 Direbus 30


5. Formulasi Akhir
OTM Gentamicin Sulfat
R/ Tiap 10 ml mengandung
Gentamicin Sulfat 0.3%
Benzalkonium klorida 0.01%
Dinatrium EDTA 0.02%
Dapar fosfat yang terdiri :
Na2HPO4
KH2PO4
NaCl 0,724%
Na metabisulfit 0,05%
Aquades ad 10 ml

Perhitungan Bahan
pH = pKa + log
7 = 7,21 + log
log = - 0,21
= 0,616 .... (1)

pH = 7
[H+] = - log 10 -7
= 10 -7

Ka = antilog pKa
= antilog (-7,21)
= 6,16 x 10 -8
β = 2,3 C x

0,01 = 2,3 C x
0,01 = 2,3 C x 2359.
0,01 = 0,5425 C
C = 0,0184 M

= 0,616
[G] = 0,616 [A]
C = 0,616 [A] + [A]
C = 1,616 [A]
0,0184 = 1,616 [A]
[A] = 0,011
[G] = 0,616 x 0,011
= 7,026 x mol/L

[Asam] = mol/L
0,011 = mol/
Mol = 1,1x
Mol = gr/Mr
1,1x = gr/136,09
Gram =
[Garam] = mol/L
7,026x = mol/
Mol = 7,026x
Mol = gr/Mr
Gram = 10 x 141,96 =

Mengitung tonisitas dengan metode Liso
BM Gentamicyn sulfat = 673,59
Dengan Liso karena zat aktif dianggap elektrolit lemah :
ΔTf = Liso x
ΔTf Gentamisin sulfat = 2 x
= 0,015 °

Data Tf dalam 1% (FI IV, hal. 1254)
Benzalkonium klorida ΔTf1% 0,09°
Dinatriun EDTA ΔTf1% 0,13°
Na2HPO4 dihidrat ΔTf1% 0,24°
KH2PO4 ΔTf1% 0,25°
Na Metabisulfit ΔTf1% 0,38°

No Zat ΔTf1% Konsentrasi ΔTf1% x Konsentrasi
1 Gentamisin sulfat - - 0,015°

Benzalkonium klorida 0,09°
0,01 0,0009°

Dinatrium EDTA 0,13°
0,02 0,0026°

Na2HPO4 dihidrat 0,24°
0,112 0,02688°

KH2PO4 0,25°
0,1497 0,0374°

Na metabisulfit 0,38°
0,05 0,019°

Jumlah 0,10178



ΔTf 0.9% NaCl isotonis = 0,52°
Agar isotonis maka perlu ditambahlan NaCl sejumlah :
Selisih ΔTf = 0,52°- 0,10178° = 0,41882°
NaCl yang ditambahkan setara dengan = (0,41882°/0,52°) x 0.9 g/100 ml
= 0,724g/100 ml
= 0,724%
Penimbangan Bahan
Sediaan dibuat 20 ml
• Gentamisin sulfat = 50,847 mg x 2 = 101,694 mg
• Dapar Fosfat : Na2HPO4 = 0,0994% x 20 ml = 0,01988 g = 19,88 mg
KH2PO4 =0,1497% x 20 ml = 0,02994 g = 29,94 mg
• Dinatrium EDTA = 0,02% x 20 ml = 4 mg
• Banzalkonium klorida = 0,01% x 20 ml = 2 mg
• Na Metabisulfit = 0,05% x 20 ml = 10 mg
• NaCl = 0,724% x 20 ml = 0,1488 g = 144,8 mg
API ad 20 ml
6. Prosedur Pembuatan
A. PEMBUATAN AQUA PRO INJEKSI
a. Memanaskan air hingga mendidih selama 30 menit.
b. Setelah mendidih panaskan kembali hingga 10 menit.

B. STERILISASI
Semua alat-alat yang akan digunakan disterilkan dengan oven dan autoklaf sesuai petunjuk pada Sterilisasi Alat di atas.

C. PEMBUATAN SEDIAAN
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Semua peralatan disterilkan sesuai persyaratan
3. Mengkalibrasi botol OTM
4. Zat aktif dan zat tambahan ditimbang dengan kaca arloji atau cawan penguap dilakukan di dalam Grey Area.
5. Di dalam White Area, membagi API menjadi beberapa bagian untuk melarutkan bahan.
6. Semua peralatan yang telah disterilkan dan bahan obat yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam white area melalui lemari penghantar barang yang menghubungkan grey area dan white area.
7. Melarutkan Gentamicin sufat (M1)
8. Melarutkan dapar dengan NaCl setelah itu membilas wadahnya. Selanjutnya Melarutkan Na2EDTA, melarutkan Na Matebisulfit dan melarutkan benzalkonium klorida. (M2)
9. Mencampurkan M2 ke dalam M1
10. Sebelum diadd dengan API hingga 20 ml , kira-kira 17 ml mengecek pH. apabila larutan tersebut belum mencapai pH yang diinginkan maka campuran ditambahkan sedikit asam atau sedikit basa.
11. Melakukan add larutan hingga 20 ml
12. Menyaring campuran larutan
13. Disterilkan dengan autoklaf 115-116°C selama 30 menit
14. Masukkan ke dalam botol OTM, kemudian ditutup.
15. Kemudian Lakukan evaluasi.
16. Beri etiket dan kemasan pada botol OTM.
17. Sediaan siap untuk digunakan.


VI. PEMBAHASAN
Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata. (FI III, hal 10). Obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
• Steril.
• Larutan tetes mata harus jernih dan bebas partikel.
• Sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata yaitu 7,4. sedangkan pH yang masih bisa ditolerir adalah 3,5-10,5 (The pharmaceutical Codex, p. 163).
• Sedapat mungkin isotonis. Yang masih bisa diterima adalah 0,7 – 1,5 % (TPC, p. 163)
Pada praktikum steril ini kami membuat sediaan obat tetes mata Garamicin. Obat tetes Garamicin merupakan sediaan steril dengan zat aktif gentamicin sulfat yang larut dalam air. Berdasarkan literatur pembuatan obat tetes mata garamicin ini dilakukan dengan cara sterilisasi awal secara aseptis atau filtrasi, namun dalam pelaksanaannya kami memilih untuk menggunakan cara sterilisasi akhir dimana sediaan disterilisasi dengan cara pemanasan dalam autoklaf 115-116 selama 30 menit, sediaan dimasukan ke dalam wadah yang cocok, kemudian ditutup kedap. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa sediaan yang dibuat benar-benar steril.
Formulasi yang digunakan untuk membuat obat tetes mata garamicin adalah gentamisin sulfat, benzalkonium klorida, dinatrium EDTA, dapat fosfat, NaCl dan Na metabisulfit. Dalam pembuatan obat tetes mata garamicin kami menggunakan gentamicin sulfat sebagai zat aktif.
Benzalkonium klorida yang digunakan sebagai pengawet karena lebih aman dan spesifik untuk obat tetes mata dibandingkan pengawet lain. Benzalkonium klorida efektif dalam dosis kecil yang bereaksi sebagai antimikroba sangat cepat dan stabilitas tinggi. Benzalkonium klorida juga merupakan salah satu zat tambahan yang digunakan untuk menstabilkan lapisan lemak pada mata dan membran epitel kornea. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai surfaktan, menurunkan tegangan permukaan yang dapat meningkatkan ketercampuran antara obat tetes mata dengan cairan lakrimal pada mata, dapat meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga meningkatkan penembusan dan penyerapan obat sehingga mempercepat efek lokal yang terjadi.
Dinatrium EDTA digunakan untuk mengikat logam berat yang berfungsi sebagai katalis oksidasi dan meningkatkan aktivitas benzalkonium klorida karena benzalkonium klorida dapat dipengaruhi oleh logam.
Dapar pH digunakan untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Garam alkaloid paling efektif pada pH optimal untuk pembentukan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pada pH ini obat mungkin menjadi tidak stabil, sehingga pH harus diatur dan dipertahankan tetap dengan penambahan dapar. Air mata mempunyai kapasitas dapar yang baik. Obat mata akan merangsang pengeluaran air mata dan penetralan akan terjadi dengan cepat asalkan kapasitas dapar larutan obat tersebut kecil (jumlah mol asam dan basa konjugat dari pendapar kecil). Garam alkaloid bersifat asam lemah dan kapasitas daparnya lemah. Satu atau dua tetes larutan obat mata ini akan dinaikkan pHnya oleh air mata. Dalam menyiapkan dapar dengan pH yang diinginkan, harus dipilih sistem asamgaram yang pKa-nya mendekati pH yang diinginkan agar angka banding asam terhadap garam mendekati satu dan diperoleh keefektifan maksimal terhadap penaikan dan penurunan pH. Kami menggunakan dapar fosfat untuk mempertahankan pH sediaan obat tetes mata pada pH stabil yang didasarkan pada pH sediaan yakni 6,5-7,5. Dapar fosfat merupakan dapar yang terdiri dari kalium dihidrogen fosfat yang bertindak sebagai asam dan dinatrium hidrogen fosfat yang bertindak sebagai garam dengan kapasitas dapar 0,01. Dapar fosfat dapat menstabilkan pH selama penyimpanan dan konsentrasi yang digunakan kecil sehingga secara signifikan dapat mengubah pH air mata yang artinya mudah diencerkan sehingga pH mudah dirubah sesuai dengan pH air mata.
NaCl yang digunakan sebagi zat pengisotonis dan Na Metabisulfit digunakan sebagi antioksidan yang dapat mencegah sediaan teroksidasi oleh udara. Selain itu apabila gentamicin dipanaskan maka akan menimbulkan warna coklat karena proses pengerjaan obat tetes tak lepas dari pemanasan, oleh karena itu untuk mencegah hal tersebut kami menggunakan Na Metabisulfit.
Obat tetes mata disimpan dalam wadah kaca atau plastik tertutup kedap, volume 10 ml yang dilengkapi dengan penetes. Sediaan obat tetes mata harus diberi peringatan pada etiket yang tertera “Tidak boleh digunakan lebih dari 1 bulan setelah tutup dibuka”. Hal ini dilakukan karena untuk menjamin kesterilan sediaan yang digunakan. Selain itu dalam hal pembuatan obat tetes mata kita harus memperhatikan pH sediaan karena apabila pH sediaan lebih kecil dari 5,8 dan lebih besar dari 11,4 dapat merangsang mata, oleh karena itupH sediaan obat tetes mata harus mendekati pH air mata normal yang memiliki nilai pH lebih kurang 7,4.
Kami tidak melakukan evaluasi sediaan secara keseluruhan. Evaluasi yang kami lakukan terbatas pada evaluasi pH dan uji kejernihan. pH dan kejernihan sediaan kami termasuk baik karena sediaan tampak jernih, tidak terdapat partikel melayang, dan kadar keasamannya berada pada angka 6,5.
Adapun evaluasi yang dilakukan pada sediaan OTM meliputi evaluasi fisik (uji kejernihan, penentuan bobot jenis, penentuah pH, penentuan partikulat asing, penentuan volume terpindahkan, penentuan viskositas dan aliran, volume sedimentasi, kemampuan redispersi, penentuan homogenitas, dan penentuan distribusi ukuran partikel) , evaluasi kimia (identifikasi, penetapan kadar), dan evaluasi biologi (uji sterilitas, uji efektivitas pengawet, dan penentuan potensi untuk antibiotik.


VII. KESIMPULAN
1. Obat tetes mata atau Guttae Opthalmicae adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.
2. Obat tetes mata harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: steril, larutan tetes mata harus jernih dan bebas partikel, sedapat mungkin isohidris dengan cairan mata dan sedapat mungkin isotonis.
3. Evaluasi yang dilakukan pada sediaan OTM meliputi evaluasi fisik (uji kejernihan, penentuan bobot jenis, penentuah pH, penentuan partikulat asing, penentuan volume terpindahkan, penentuan viskositas dan aliran, volume sedimentasi, kemampuan redispersi, penentuan homogenitas, dan penentuan distribusi ukuran partikel) , evaluasi kimia (identifikasi, penetapan kadar), dan evaluasi biologi (uji sterilitas, uji efektivitas pengawet, dan penentuan potensi-untuk antibiotik.








LAMPIRAN






















LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL
“OBAT TETES MATA GARAMICIN”
Laboratorium steril, 24 JUNI 2010




disusun oleh :

DOSEN PEMBIMBING :
OVA SUZANTI BETA, m.Si, Apt.

PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2010

Injeksi Ringer laktat

Injeksi Ringer laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida, Kalium klorida, Natrium klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi; tiap 100 ml mengandung tidak kurang dari 285,0 mg dan tidak lebih dari 315,0 mg natrium (sebagai NaCl dan C3H5NaO3), tidak kurang dari 14,1 mg dan tidak lebih dari 17,3 mg kalium (K, setara dengan tidak kurang dari 27,0 mg dan tidak lebih dari 33,0 mg KCL), tidak kurang dari 4,90 mg dan tidak lebih dari 6,00 mg kalsium (Ca, setara dengan tidak kurang dari 18,0 mg dan tidak lebih dari 22,0 mg CaCl2.2H20), tidak kurang dari 368.0 mg dan tidak lebih dari 408,0 mg klorida (Cl, sebagai NaCl, KCl dan CaCl2.2H20), dan tidak kurang dari 231,0 mg dan tidak lebih dari 261,0 mg laktat (C3H5O3, setara dengan tidak kurang dari 290,0 mg dan tidak lebih dari 330,0 mg C3H5NaO3). Injeksi Ringer laktat tidak boleh mengandung bahan antimikroba.

Baku Pembanding Natrium Laktat BFPI ; Lakukan pengeringan dalam hampa udara pada suhu 60C selama 4 jam sebelum digunakan. Endotoksin BPFI.

pH : antara 6.0 – 7.5 (FI IV)
5-7 (Martindale)

Wadah dan Penyimpanan : Dalam wadah kaca atau plastik dosis tunggal, sebaiknya dari kaca Tipe I atau Tipe II

Pemberian : secara iv , kecepatan tidak boleh lebih dari 300 ml/jam.


BAHAN YANG DIGUNAKAN

Sodium Laktat
Kelarutan : Larut dalam air, alkohol dan gliserol. Praktis tidak larut dalam kloroform, eter dan minyak.
Sterilisasi : Autoklaf atau filtrasi
OTT : Dengan Novobiosin sodium, Oksitetrasiklin HCl, Sodium Bikarbonat, Sodiumkalsiumedetat dan Sulfadialin sodium
KontraIndikasi : Pada penderita gangguan fungsi hati.
pH : 5-7
E Sodium laktat : 0.55

NaOH
Pemerian : Bentuk batang, butir, hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih atau padatan putih, mudah meleleh, basah. Sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, etanol 95% dan gliserol.
E NaOH : 17 x 3.8/40 = 1.615

NaCl
Bobot molekul : 58,44
Pemerian : Kristal tidak berbau tidak berwarna atau serbuk Kristal putih, tiap 1g setara dengan 17,1 mmol NaCl.
Kelarutan : 1bagian larut dalam3 bagian air, 10 bagian gliserol, sedikit larut dalam etanol, larut dalam 250 bagian etanol 95%, larut dalam 2,8 air dan dalam 2,6 bagian air pada suu 100˚ C.
Sterilisasi : autoklaf atau filtrasi
Stabilitas : stabil dalam bentuk larutan. Larutan stabil dapat menyebabkan pengguratan partikel dari tipe gelas.
pH : 4,5-7
OTT : logam Ag, Hg, Fe
E NaCl : 1
Kesetaraan E elektrolit: 1g ≈ 17,1 mEq
Kosentrasi/ dosis : lebih dari 0.9%. injeksi iv 3-5% dalam 100 ml selama 1 jam. Injeksi NaCl mengandung 2,5-4 mEq/ml. Na⁺ dalam plasma = 135-145 mEq/ml.
Khasiat : pengganti ion Na⁺,Cl⁻ dalam tubuh dan agen tonisitas.
Farmakologi : berfungsi untuk mengatur distribusi air, cairan dan keseimbangan elektrolit dan tekanan osmotic cairan tubuh.



KCl
Pemerian : Kristal atau serbuk putih atau tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa atau berasa asin.
Kelarutan : larut dalam air, sangat mudah larut dalam air panas, larut dalam air panas, larut dalam 14 bagian gliswerin, praktis tidak larut dalam eter, aceton, etanol dan alcohol.
pH : 4-8, 7 untuk larutan pada suhu 15˚C.
konsentrasi : 2,5-11,5%
dosis : konsentrasi kalium pada ryte iv tidk lebih dari 40 mEq/L dengan kecepatan 20 mEq/jam (untuk hipokalemia). Untuk mempertahankan konsentrasi kalium pada plasma 4 mEq/L. K⁺ dalam plasma = 3,5-5 mEq/L.
stabilitas : stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, ditempat sejuk dan kering.
Kegunaan : biasa digunakan dalam sediaan parenteral sebagai senyawa pengisotonis, dan juga sebagai sumber ion Kalium.
OTT : larutan KCl iv inkompatibel dengan protein hidrosilat, perak dan garam merkuri.
Sterilisasi : dengan autoklaf atau filtrasi.
Ekuivalen : 0,76
Kesetaraan E elektrolit: 1g ≈ 13,3 mEq K⁺

Acidum lacticum
Pemerian : Cairan kental, tidak berwarna atau agak kuning, tidak berbau atau berbau lemah, tidak enak, larutan encer yang berasa asam; Higroskopik.
Kelarutan : Mudah larut dalam air, dalam etanol 95% dan dalam eter
E Acidum lacticum : 0.41

CaCl2
Pemerian : granul atau serpihan, putih, keras, tidak, berbau
Kelarutan : mudah larut dalam air (1,2 bagian), dalam etanol (4 bagian), dan dalam etanol mendidih (2 bagian), sangat mudah larut dalam air panas (0,7 bagian).
pH : 4,5-9,2
OTT : karbonat, fosfat, sulfat, tartrat, sefalotin sodium, CTM dengan tetrasiklin membentuk kompleks.
Kegunaan : untuk mempertahankan elektrolit tubuh, untuk hipokalemia, sebagai elektrolit yang esensial bagi tubuh untuk mencegah kekurangan ion kalsium yang menyebabkan iritabilitas dan konvulsi.
Sterilisasi : autoklaf
E CaCl2 : 0,53
Kesetaraan E elektrolit: 1g CaCl2 ≈ 13,6 mEq Ca⁺⁺
Farmakologi : penting untuk fungsi integritas dari saraf muscular, system skeletal, membrane sel dan permeabilitas kapiler.

API
Pemerian : cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau
Kegunaan : pembawa dan pelarut



PENGKAJIAN PRAFORMULASI
No Masalah Diinginkan Pemecahan Pemilihan Alasan
1. Zat aktif terdiri dari NaCl, KCl, CaCl2 dan Natrium laktat Dibuat sediaan yang cocok -sediaan parenteral volume kecil
-sediaan parenteral volume besar Sediaan parenteral volume besar sediaan parenteral volume besar umumnya diberikan lewat infuse intravena untuk menambah cairan tuuh, elektolit, atau member nutrisi
2. Dibuat dibuat sediaan parenteral Pemberian dilakukan secara tepat, sehingga tidak menimbulkan efek samping Alternative pemberian sediaan: im, sc, iv Diberikan secara iv Sediaan infuse biasanya diberikan secara iv. Menurut martindale penggunaan larutan ringer adalah infuse intravenous.
3. Pelarut yang digunakan Diuat air yang bebas dari pirogen Digunakan API API API digunakan sebagai pelarut dan pembawa karena bahan-bahan larut dalam air
4. Kestabilan selama pemyimpanan Tetap stabil tidak terkontaminasi mikroba Penyimpanan dalam wadah dosis tunggal. (FI ed. IV)
5. Sediaan dalam kondisi steril Sediaanyang steril Dilakukan proses sterilisasi:
-sterilisasi akhir
-aseptis Sterilisasi akhir Injeksi ringer disterilkan dengan cara sterilisasi A (fornas)







Data Larutan Ringer
Daftar obat Pengertian pH Jenis steriliassi Khasiat Catatan
NATRII LACTATIS INJECTIO COMPOSITUM atau
Injeksi Natrium Laktat majemuk atau
Injeksi Ringer Laktat Injeksi Ringer laktat adalah larutan steril dari Kalsium klorida, Kalium klorida, Natrium klorida dan Natrium laktat dalam Air untuk injeksi 6.0 – 7.5 (FI IV)
5-7 (Martindale) Sterilisasi A (Fornas),sterilisasi A (martindale) Infuse intravenous Injeksi ringer tidak boleh mengandung bahan antimikroba



Formulasi standar dari Fornas

NATRII LACTATIS INJECTIO COMPOSITUM
Injeksi Natrium Laktat majemuk
Injeksi Ringer Laktat
Komposisi. tiap 500 ml mengandung
Acidum Lacticum 1.2 ml
Natrii Hydroxydum 575 mg
Natrii Chloridum 3 g
Kalii Chloridum 200 mg
Calcii Chloridum 1.35 mg
Penyimpanan. Dalam wadah dosis tunggal
Catatan. 1. Ditambahkan Asam Klorida 0.1 N hingga pH 5,0 sampai 7,0.
2. Mengandung ion bikarbonat dihitung sebagai laktat 29 mEq, ion kalium 5 mEq, ion kalsium 8 mEq, ion klorida 111 mEq dan ion natrium 131 mEq per liter.
3. tidak boleh mengandung bakterisida
4. disterilkan dengan cara sterilisasi A, segera setelah dibuat
5. bebas pirogen
6. pada etket harus juga tertera :
a. Banyaknya ion bikarbonat dihitung sebagai laktat, ion kalium; ion klorida; dan ion natrium masing-masing dalam mEq/L
b. Daluwarsa
7. diinjeksikan secara infuse

Usul : dibuat sediaan infuse sebanyak 100 ml


Alat dan cara sterilisasinya
No Nama Alat Cara sterilisasi Waktu
1 Spatula Oven 170˚C 30 menit
2 Batang pengaduk Oven 170˚C 30 menit
3 Cawan penguap Oven 170˚C 30 menit
4 Pinset Oven 170˚C 30 menit
5 Erlenmeyer Oven 170˚C 30 menit
6 Beaker glass Oven 170˚C 30 menit
7 Gelas ukur Autoklaf 115-116˚C 30 menit
8 Corong Autoklaf 115-116˚C 30 menit
9 Kertas saring Autoklaf 115-116˚C 30 menit




Formulasi Akhir
R/ Tiap 100 ml mengandung
Acidum Lacticum 0.24 ml
Natrii Hydroxydum 115 mg
Natrii Chloridum 0.6 g
Kalii Chloridum 40 mg
Calcii Chloridum 0.27 mg
API ad 100 ml


NaCl 900 mg/100 ml
Berat Na+ =
=
= 353,8 mg
Cl- = 900 – 353.8
= 546.2 mg
Na+ = 310 mg (300x1) / 23 = 13.47 meq/L
K+ = 16 mg (16x1) / 39.1 = 0.40 meq/L
Ca 2+ = 6 mg (6x2) / 40 = 0.03 meq/L
Cl- = 370 mg (400x1) / 35.5= 11.33 meq/L
Laktat- = 250 mg (250x1) / 89 = 2.8 meq/L


Na laktat = = 313.6 mg
Sisa Na+ = 13.47 – 2.8 = 10.6
NaCl = = 620.1 mg
Sisa Cl- = 11.3 – 10.6 = 0.7
CaCl2 = = 1.665 mg
KCl = = 29.8 mg



R/ Na laktat 313.6 mg
NaCl 620.1 mg
CaCl2 1.6 mg
KCL 29.8 mg
965.1 ̴ 0.9

Osmolaritas dan Tonisitas
M osmole/ L NaCl = (0.620/58.5)x2x1000x10 = 212
M osmole/ L CaCl2 = (0.001665/111)x3x1000x10 = 0.045
M osmole/ L KCl = (0.0298/74.6)x2x1000x10 = 8
M osmole/ L Na Laktat = (0.313/112)x2x1000x10 = 56
276 (isotonis)

White Vincent
V = W x E x 111,1
= {(0,313 x 0,55)+(0.620x1)+(1.665x10-3 x 0,53)+(29,8x10-3 x 0,76)} x 111,1
=


Dilebihkan 10% dari jumlah sediaan, sehingga menjdi 110 ml
Jadi :Asam laktat = 110/100 ml x 0.24 ml = 0.264 ml = 264 mg
NaOH = 110/100 ml x 115 mg = 126.5 mg
NaCl = 110/100 ml x 0,6 g = 0.66 g
KCl = 110/100 ml x 40 mg = 44 mg
CaCl2 = 110/100 ml x 0.27 mg = 0.297 mg









PROSEDUR KERJA
A. PEMBUATAN AQUA PRO INJEKSI
a. Memanaskan air hingga mendidih selama 30 menit.
b. Setelah mendidih panaskan kembali hingga 10 menit.

B. PEMBUATAN SEDIAAN
1. Menyiapkan alat dan bahan
2. Zat aktif dan zat tambahan ditimbang dengan kaca arloji atau cawan penguap dilakukan di dalam Grey Area.
3. Gelas piala yang digunakan dikalibrasi sesuai dengan volume larutan yang akan dibuat yaitu 250 ml.
4. Zat-zat yang sudah ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas piala yang telah dikalibrasi 250 ml.
5. Menuangkan air steril untuk melarutkan zat dan membilas kaca arloji sampai tanda kalibrasi tercapai.
6. Menimbang 0,1% (0,3 g) karbon aktif
7. Melarutkan semua zat secara terpisah pada beaker glass, lalu mencampurkannya kedalam beaker glass didalam white area.
8. Mencukupkan larutan hingga setengah dan mengecek pH sediaan. Jika pH sediaan sudah sesuai maka diadd hingga tanda batas kalibrasi.
9. Menambah karbon aktif 0.3 gr, lalu dimasukkan ke dalam larutan sediaan. Gelas piala ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk. Karbon aktifnya diaktifkan dengan cara dipanaskan 40-70 selama 15 menit sambil diaduk.
10. Kertas saring ganda dan terlipat, dibasahi terlebih dahulu dengan air bebas progen (dibuat seperti larutan bebas pirogen).
11. Memindahkan corong dan kertas saring ke Erlenmeyer steril bebas pirogen.
12. Menyaring larutan hangat-hangat ke dalam Erlenmeyer.
13. Mengukur volume larutan dalam gelas ukur tepat 200 ml dan mengisi langsung ke dalam botol infus 200 ml.
14. Memasang tutup karet botol infus steril dengan mengikat dengan simpul champagne
15. Mensterilkan botol infus yang berisi larutan dalam autoclave suhu 115-116°C selama 10 menit.
16. Masukkan ke dalam botol infus.
17. Lakukan evaluasi.
18. Beri etiket dan kemasan pada botol infus.
19. Sediaan siap untuk digunakan.




























PEMBAHASAN

Asupan air dan elektrolit dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam jumlah relative sama. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%, serta mineral dan glikogen 6% ketika terjadi gangguan homeostatis (keseimbangan cairan tubuh ), maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elektrolit.
Secara klinis fungsi larutan elektrolit adalah untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada dua jenis kondisi plasma darah yang menyimpang yaitu:
a) Asidosis merupakan kondisi plasma darah yang terlampau asam akibat adanya ion klorida dalam jumlah berlebih.
b) Alkalosis merupakan kondisi plasma darah yang terlampau basa akibat adanya ion natrium, kalium,dan kalsium dalam jumlah berlebih
Penyebab kekurangan elektrolit plasma adalah kecelakaan,kebakaran, operasi atau perubahan patologis organ, gastroenteritis,demam tinggi, atau penyakit lain yang menyebabkan output dan input tidak seimbang. Kehilangan natrium disebut hipovolemia, sedangkan kekurangan H2O disebut dehidrasi. Kemudian kekurangan HCO3 disebut asidosis metabolic dan kekurangan K+ disebut hipokalemia.
Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan penambahan/pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat.
Ini menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K, Ca, dan Cl.
Dalam praktikum steril kali ini kami membuat sediaan infuse ringer laktak. Infus sendiri merupakan larutan dalam jumlah basar terhitung mulai dari 10 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok.
Infuse ringer laktat adalah larutan steril Natrium klorida, Kalium klorida, Kalsium klorida dan natrium laktat dalam air untuk obat suntik. Kadar ketiga zat tersebut sama dengan kadar zat-zat tersebut dalam larutan fisiologis. Larutan ini digunakan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh.
Pada proses pembuatan kami tidak menggunakan natrium laktat dikarenakan natrium laktat tidak tersedia dilaboratorium. Ion natrium (Na+) dalam injeksi berupa natrium klorida dapat digunakan untuk mengobati hiponatremia, karena kekurangan ion tersebut dapat mencegah retensi air sehingga dapat menyebabkan dehidrasi. NaCl digunakan sebagai larutan pengisotonis agar sediaan infus setara dengan 0,9% larutan NaCl, dimana larutan tersebut mempunyai tekanan osmosis yang sama dengan cairan tubuh. Kalium klorida (KCl), kalium merupakan kation (positif) yang terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat esensial untuk mengatur keseimbangan asam-basa serta isotonis sel. Untuk menggantikan kalium yang hilang digunakan KCl yang lebih mudah larut dalam air. Ion kalsium (Ca2+), bekerja membentuk tulang dan gigi, berperan dalam proses penyembuhan luka pada rangsangan neuromuskuler. Jumlah ion kalsium di bawah konsentrasi normal dapat menyebabkan iritabilitas dan konvulsi. Kalsium yang dipakai dalam bentuk CaCl2 yang lebih mudah larut dalam air.
Pada saat pembuatan kami tidak menggunakan pengawet dikarenakan infus ditujukan untuk penggunaan intravena. Sediaan infus diberikan secara intravena untuk segera dapat memberikan efek. Pelarut yang digunakan adalah Air Pro Injection (API). Sediaan infus yang kami buat sebanyak 250 ml dengan penambahan volume pada saat pembuatan sediaan sebanyak 10% sehingga menjadi 275 ml. Hal ini dilakukan karena pada saat penyaringan, filtrate pertama yang agak kehitaman akibat dari penambahan karbon aktif, dibuang kurang lebih 10 ml. Sediaan infus sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, yaitu mempunyai tekanan osmosis larutan yang sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh. Larutan infuse yang kami buat adalah isotonis, yaitu 276 ml. Pembuatan sediaan infus ini harus steril dan bebas pirogen. Cara sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir dengan teknik autoklaf karena untuk menjamin kesterilan sediaan.
Infuse harus bebas pirogen karena pirogen menyebabkan kenaikan suhu tubuh yang nyata, demam, sakit badan, kenaikan tekanan darah arteri, kira-kira 1 jam setelah injeksi. Pirogen dapat dihilangkan dari larutan dengan absorbsi menggunakan absorban pilihan. Dalam prakteknya, kami menambahkan karbon aktif sebanyak 0,1% untuk menghilangkan pirogen tersebut. Mekanisme kerja dari karbon aktif ini adalah pirogen akan terserap pada karboabsorben. Untuk mengantisipasi penyerapan zat aktif pada karboabsorben, zat aktif ditimbang dilebihkan 5%.
Berdasarkan literature, pH sediaan larutan infus ringer laktat yaitu pada rentang pH 6,0 sampai 7,5. Sediaan yang kami buat memiliki pH 6,5 sehingga dapat dikatakan sediaan infus yang kami buat memenuhi persayaratan pH sediaan. Tujuan utama pengaturan pH dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat, misalnya perubahan warna, efek terapi optimal obat, menghindari kemungkinan terjadinya reaksi dari obat tersebut, sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi. Selain itu, untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit seaktu disuntikkan. pH yang terlalu tinggi akan menyebabkan nekrosis jaringan sedangkan pH yang terlalu rendah menyebabkan rasa sakit jika disuntikkan.
Penandaan obat sediaan infus ringer laktat yang digunakan adalah label obat keras, karena pada umumnya pemberian sediaan infus perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis dan harus dengan resep dokter untuk menghindari penyalahgunaan sediaan. Pada etiket, selain dituliskan lambang obat keras, juga dicantumkan jumlah isi atau volume sediaan. Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh etiket, hal ini dilakukan untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.



EVALUASI

1. Uji pH dengan indikator pH
Adanya perubahan pH mengindikasikan telah terjadi penguraian obat atau terjadi interaksi obat dengan wadah.
Hasil pH sediaan infus ringer laktat : 6,5 , berada pada rentang pH sediaan yang diinginkan
2. Uji adanya partikel melayang
Dilihat secara visual tidak terdapat partikel melayang pada sediaan infus yang dibuat.




KESIMPULAN

1. Sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen karena sediaan diinjeksikan langsung pada aliran darah (infus intravena)
2. Sediaan infus ringer laktat ditujukan sebagai penambah cairan elektrolit yang diperlukan tubuh.
3. pH sediaan infus ringer laktat yang dibuat memenuhi persyaratan pH sediaan infus ringer laktat menurut literature (6,0– 7,5 ) yaitu 6,5.
4. Pengaturan pH dalam sediaan infus ini adalah untuk mempertinggi stabilitas obat sehingga obat tersebut mempunyai aktivitas dan potensi dan untuk mencegah terjadinya rangsangan atau rasa sakit seaktu disuntikkan.
5. Sterilisasi sediaan infus dilakukan sterilisasi akhir karena untuk menjamin kesterilan sediaan.



DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. 2004. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Ansel, Howard C. 1989.Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI-Press.
Departemen Kesehatan RI, 1979. Farmakope Indonesia, edisi III. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia, edisi IV. Jakarta.
Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional, Ed II. Jakarta.
Department of Pharmaceutical Sciences. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia, twenty-eight edition. London : The Pharmaceutical Press.
Lachman L, Lieberman HA, Kanig JL. 1994.Teori dan Praktek Farmasi Indrustri. Edisi Ketiga. Vol III. Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi. Jakarta: UI Press.
Syamsuni, H.A. 2006.Ilmu Resep.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Wade, Ainley and Paul J Weller.Handbook of Pharmaceutical excipients.Ed II.1994.London; The Pharmaceutical Press.