Assalamu'alaikum ...

Foto Saya
depok, jawa barat, Indonesia
jadilah apa yang kau inginkan!

Kamis, 08 Juli 2010

OTM Garamycin laporan 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG

Obat biasanya dipakai pada mata untuk maksud efek lokal pada pengobatan bagian permukaan mata atau pada bagian dalamnya. Obat mata (optalmika) adalah tetes mata (Oculoguttae), salep mata (Oculenta), pencuci mata (Colyria), dan beberapa bentuk pemakaian khusus (lamela dan penyemprot mata) serta inserte sebagai bentuk depo yang ditentukan untuk digunakan pada mata utuh atau terluka.
Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep terbatas, pada umumnya obat mata diberikan dalam volume yang kecil. Preparat cairan sering diberikan dalam bentuk sediaan tetes dan salep dengan mengoleskan salep yang tipis pada pelupuk mata. Volume sediaan cair yang lebih besar dapat digunakan untuk menyegarkan atau mencuci mata.
Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet, sterilisasi dan kemasan yang tepat. Zat tambahan yang biasa dipakai adalah dapar pH, pengatur tonisitas (NaCl), pengatur viskositas (contoh PEG, PVP), pengatur tegangan permukaan, dan pengawet. Untuk itu, dalam merancang formulasi sediaan steril ini harus benar-benar diperhatikan, mulai dari praformulasi, formulasi, prosedur pengerjaan hingga proses evaluasi sediaan. Dalam laporan praktikum ini akan dipaparkan hasil praktikum yang telah dilakukan dalam merancang dan membuat formulasi tetes mata garamycin.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
Adapun tujuan praktikum yang dilakukan adalah untuk mengetahui dan dapat merancang formulasi injeksi pelarut air serta evaluasi yang dilakukan terhadap sediaan.

BAB II
DASAR TEORI

I.1 Pengertian Obat Tetes Mata
Obat tetes mata merupakan sediaan berupa larutan atau suspense, digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan bola mata. Obat-obat yang digunakan pada produk optaimik dapat dikategorikan menjadi miotik, midriatik, siklopegik, anti-inflamatory agent, anti infeksi, anti glaucoma, senyawa diagnostic dan anestetik local.

I.2 Kelebihan Dan Kekurangan Obat Tetes Mata
 Kelebihan :
1. Larutan mata memiliki kelebihan dalam hal homogeny, bioavailabilitas, dan kemudahan penanganan.
2. Suspense mata memiliki kelebihan dimana adanya partikel zat aktif dapat memperpanjang waktu tinggal pada mata sehingga meningkatkan waktu terdisolusinya oleh air mata, sehingga terjadi peningkatan bioavailabilitas dan efek terapinya.

 Kekurangan :
1. Volume larutan yang dapat ditampung oleh mata sangat terbatas (± 7μL) maka larutan yang berlebih dapat masuk ke nasel cavity lalu masuk ke jalur GI menghasilkan absorpsi sistemik yang tidak diinginkan. Misalnya β-bloker untuk perawatan glaucoma dapat menjadi masalah bagi pasien gangguan jantung atau asma bronchial.
2. Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina dan iris relatf non permeable sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya local atau topical.Kornea dan rongga mata sangat kurang tervaskularisasi, selain itu kapiler pada retina dan iris relatf non permeable sehingga umumnya sediaan untuk mata adalah efeknya local atau topical.

I.3 Persyaratan Sediaan Tetes Mata
1. Steril
Farmakope modern mesyaratkan sterilitas kuman bagi optalmika (angka kuman harus 0). Pembuatan tetes mata pada dasarnya pada kondisi kerja aseptik.
2. Jernih
Persyaratan larutan bebas partikel bertujuan menghindari rangsangan akibat bahan padat. Filtrasi dengan kertas saring atau kain wol tidak dapat menghasilkan larutan bebas partikel melayang. Oleh karena itu, sebagai material penyaring kita menggunakan leburan gelas. Misalnya Jenaer Fritten berukuran pori G3-G5.
3. Pengawetan (antimicrobial preservative)
Meskipun steril, ketika disalurkan setiap larutan untuk mata ini harus mengandung bahan antibakteri yang efektif yang tidak mengiritasi atau campuran dari bahan-bahan tersebut untuk mencegah berkembang atau masuknya mikroorganisme dengan tidak sengaja yang masuk k edalam larutan, ketika wadah terbuka selama pemakaian. Pengawetan yang tepat dan konsentrasi maksimum dari pengawet untuk tujuan ini termasuk:
a) 0,013% benzalkonium klorida
b) 0,01% benzetonium klorida
c) 0,5% klorobutanol
d) 0,004% fenilmerkuri asetat
e) 0,004% fenilmerkuri nitrat
f) 0,01% timerosal


4. Tonisitas
Karena kandungan elektrolit dan koloid di dalamnya, cairan air mata memiliki tekanan osmotik, yang nilainya sama dengan darah dan cairan jaringan. Besarnya adalah 0,65 – 0,8 M Pa (6,5 – 8 atmosfir), penurunan titik bekunya terhadap air 0,52° K atau konsentrasinya sesuai dengan larutan natrium klorida 0,9% dalam air. Larutan hipertonis relatif lebih dapat diterima daripada hipotonis. Larutan yang digunakan pada mata luka atau yang telah dioperasi menggunakan larutan isotonis. Pada larutan yang mengandung perak, kita memakia garam nitrat 1,2 – 1,6%.
5. Stabilitas
a) Pendaparan
Harga pH mata sama dengan darah, yaitu 7,4. Tujuan penggunaan dapar pH adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan oleh pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan dan stabilitas obat. Pada pemakaian tetesan biasa, larutan yang nyaris tanpa rasa nyeri adalah larutan dengan pH 7,3 – 9,7. Namun, daerah pH 5,5 – 11,4 masih dapat diterima. Larutan dapar berikut digunakan secara internasional:
1) Dapar Natrium asetat – Asam borat, kapasitasnya tinggi di daerah asam.
2) Dapar fosfat, kapasitasnya tinggi di daerah alkalis.

b) Viskositas dan aktivitas permukaan
Tetes mata dalam air mempunyai kekurangan karena dapat ditekan keluar dari saluran konjungtiva oleh gerakan pelupuk mata. Namun, melalui peningkatan viskositas tetes mata dapat mencapai distribusi bahan aktif yang lebih baik di dalam cairan dan waktu kontak yang panjang. Sebagai peningkat viskositas, kita memakai metilselulosa dan polivinilpirilidon (PVP) dan sangat disarankan menggunakan polivinilalkohol (PVA) 1-2%. Kita memakai larutan dengan viskositas 5-15 mPa detik (5-15 cP). Apabila zat padat sulit larut, maka kita dapat menambahkan Tween 80, polioksietilen 40, stearat dan benzalkonium klorida atau benzalkonium bromida.
Sediaan tetes mata mempunyai banyak persamaan dengan sediaan parenteral. Formulasi sediaan tetes mata yang stabil memerlukan bahan-bahan yang sangat murni seperti bebas dari kontaminan kimia, fisik (partikel), dan mikroba. Sediaan tetes mata digunakan dalam jumlah yang besar, seperti irigan mata, atau dalam pemeliharaan peralatan seperti lensa kontak. Beberapa pertimbangan dalam pembuatan obat mata:
1. Sterilitas
Sediaan harus dikerjakan seaseptis mungkin dan dilakukan proses sterilisasi yang sesuai. Cara sterilisasi yang sering digunakan untuk obat tetes mata adalah pemanasan dengan otoklaf, pemanasan dengan bakterisida, dan penyaringan.
2. Iritasi
pH sediaan yang tidak cocok dengan air mata akan mengakibatkan iritasi yang
disertai dengan keluarnya air mata. Difusi obat akan terhalang sehingga jumlah obat tidak efektif.
3. Pengawet
Pengawet perlu ditambahkan khususnya untuk obat tetes mata dosis ganda. Syarat pengawet: efektif dan efisien, tidak berinteraksi dengan bahan aktif atau bahan pembantu lainnya, tidak iritan terhadap mata, dan tidak toksis.



I.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Obat Tetes Mata
1. Sterilisasi sediaan dan adanya bahan pengawet untuk mencegah kontaminasi mikroorganisme pada waktu wadah dibuka untuk digunakan.
2. Jika tidak mungkin dibuat isotonis dan isohidris maka larutan dibuat hipertonis dan pH dicapai melalui teknik euhidri.
3. Adanya air mata yang dapat mempersingkat waktu kontak antara zat aktif dengan mata (maka perlu ditambahkan bahan pengental).
4. pH optimum lebih diutamakan untuk menjamin stabilitas sediaan.
5. Dapar yang ditambahkan mempunyai kapasitas dapar yang rendah, tetapi masih efektif untuk menunjang stabilitas zat aktif dalam sediaan.
6. Konsentrasi zat aktif berpengaruh pada penetrasi zat aktif yang mengikuti mekanika absorpsi dengan cara difusi pasif.
7. Peningkatan viskositas dimaksudkan untuk meningkatkan waktu kontak sediaan dengan kornea mata.
8. Beberapa larutan obat mata perlu hipertonik untuk meningkatkan daya serap dan menyediakan kadar bahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilkan efek obat yang cepat dan efektif. Apabila larutan obat seperti ini digunakan dalam jumlah kecil, pengenceran denagn air mata cepat terjadi sehingga rasa perih akibat hipertonisitas hanya sementara.
9. Pembuatan obat mata dengan sistem dapar mendekati pH fisiologis dapat dilakukan dengan mencampurkan secara aseptik larutan obat steril dengan larutan dapar steril. Walaupun demikian, perlu diperhatikan mengenai kemampuan berkurangnya kestabilan obat pada pH yang lebih tinggi, pencapaian dan pemeliharaan sterilitas selama proses pembuatan. Berbagai obat, bila didapar pada pH yang dapat digunakan secara terapeutik, tidak akan stabil dalam larutan untuk jangka waktu yang lama. Sediaan ini dibeku-keringkan dan direkonstitusikan segera sebelum digunakan.








BAB III
P R A F O R M U L A S I

A. Praformulasi zat aktif
 Zat aktif : Gentamisin sulfat

Sumber FI edisi 3 hlm.266:
Garam sulfat zat antimikroba yang dihasilkan oleh Micromonospora purpurea. Potensi tiap mg setara dengan tidak kurang dari 590 ug gentamisin, dihitung sebagai zat anhidrat.
Sumber Martindale edisi 28 hlm.1166:
Gentamisin sulfat mengandung 31 – 34% sulfat dan tidak kurang dari 590 unit gentamisin per mg; 80.000 unit gentamisin ekivalen dengan 80 mg gentamisin.
 Sifat organoleptis
- Bentuk : Serbuk
- Warna : Putih sampai kuning gading
 Sifat kelarutan
Sumber FI ed.3
- Dalam air : Mudah larut dalam air. (1 : 1 – 10)
- Dalam etanol 95%, kloroform, dan eter : Praktis tidak larut dalam etanol 95%, kloroform, dan eter
Sumber Martindale ed.28
- Dalam air : Larut dalam air. (1 : 10 – 30)
- Dalam etanol 95%, kloroform, dan eter : Praktis tidak larut dalam etanol 95%, kloroform, dan eter
 pH
- 4% larutan dalam air : 3,5 – 5,5
- Eye drops (tetes mata) : 6,5 – 7,5
 Sifat kestabilan
Pemanasan : Tahan terhadap pemanasan, (dapat disterilisasi dengan autoklaf, tapi warnanya akan berubah jadi coklat dan dapat diatasi dengan penambahan Na metabisulfit.).
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat (kedap udara). Simpan pada temperatur tidak lebih dari 40 0C
 Dosis lazim : ISO 2007 (Gentafilm, Genoint dan Isotic Timact) hlm.412:
Tetes mata 0,3% atau 3 mg 1 – 2 tetes tiap 4 jam.
Sumber Tjay, 2002 hlm.74:
Tetes mata 0,3%, 4 – 6 kali sehari 1 – 2 tetes.
 Indikasi
Sumber Farmakologi dan Terapi FKUI hlm.670:
Antibiotik golongan aminoglikosida yang digunakan secara topikal.
Sumber Tjay, 2002 hlm.74:
Antibiotik yang dapat mengatasi infeksi kuman Pseudomonas, Proteus, dan Staphylococcus yang resisten dengan penisilin.
 Efek samping : terhadap ginjal dan pendengaran, tapi agak jarang mengganggu pendengaran namun adakalanya menimbulkan gangguan alat keseimbangan.
 Waktu paruh
Sumber Tjay, 2002 hlm.74 : 2 – 3 jam
 Bentuk sediaan : Krim, salep mata, tetes mata, injeksi (i.m)
 Cara sterilisasi
- Filtrasi (filtration)
Bila disterilisasi dengan autoklaf, sediaan gentamisin berubah warna menjadi coklat, tetapi dapat diatasi dengan penambahan Na metabisulfit. (Sumber Martindale ed. 28 hlm.1166)
- Semua sediaan steril, dalam proses pembuatannya menggunakan teknik aseptis (semua alat dan bahan disterilisasi terlebih dahulu sesuai dengan monografi cara sterilisasi masing-masing).
OTT (incompatibility) : Amfoterisin, sefalosporin, eritromisin, heparin, penisilin, ampisilin, sodium bikarbonat, sefalotin, cloxacillin, dan sulfadiazin.
* Menurunkan potensi gentamisin.
 Penandaan pada etiket
Sumber B.P:
” Obat Tetes Mata ”
Tidak boleh digunakan lebih dari 1 bulan setelah sediaan dibuka.


B. Praformulasi Bahan Tambahan

1. Sediaan ditambahkan pengawet (antimikroba) karena sediaan tetes mata dibuat dalam dosis ganda.
Benzalkonium Klorida
Sumber HPE second editional p.27
Pemerian : Serbuk amorf berwarna putih sampai putih kekuningan seperti gel tebal atau gelatin, tidak berbau.
Kelarutan : Sangat larut dalam air (very soluble in water)
pH : 5 – 8
% lazim : 0,01 – 0,02%
% pakai : 0,01%
Incompatibel : Aluminium, anionic surfaktan, sitrat, cotton, fluoresein, hydrogen peroksida, HPMC, iodide, kaolin, lanolin, nitrat, nonionic surfaktan dengan konsentrasi tinggi, permanganate, protein, salisilat, garam Ag, sabun, sulfonamide, tartrat, ZnO, zink sulfat, dan beberapa plastic.
Cara sterilisasi : autoklaf
Kegunaan : antimikroba

2. Sediaan ditambahkan pengkelat disodium edetat, karena dapat meningkatkan aktivitas benzalkonium klorida sebagai antimikroba terhadap strain Pseudomonas.
Disodium Edetat (Na2 EDTA)
Sumber HPE second editional p.177
Pemerian : Berbau lemah atau tidak berbau, rasa asam.
Kelarutan : Dalam air larut 1 :1
pH : 4,5 – 4,7
% lazim : 0,005– 0,1%
% pakai : 0,02%
Kegunaan : Pengkelat

3. Sediaan ditambahkan antioksidan sodium metabisulfit, karena dapat teroksidasi bila disterilisasi dengan autoklaf, ditandai dengan warna sediaan yang berubah menjadi coklat.
Sodium bisulfit
Sumber HPE second editional p.451
Pemerian : Serbuk kristal tidak berwarna/ putih sampai putih krem, bau sulfur dioksida, rasa asin.
% lazim : 0,01 – 1%
% pakai : 0,05%
pH : 6-8
Kelarutan : 1 : 1,9 atau 1 : 1,2 (1000C)
Cara sterilisasi : autoklaf, dengan syarat sediaan telah dimasukkan ke dalam wadah yang telah dialiri gas inert seperti N2.
OTT : obat-obat simpatomimetik, obat derivat orto/para hidroksi benzil alkohol, obat derivat asam sulfonat, obat-obat adrenalin, kloramfenikol, cisplatin, (dapat menurunkan efek farmakologis obat-obat tersebut). Fenil merkuri asetat pada sediaan tetes mata yang disterilisasi dengan autoklaf.
Kegunaan : antioksidan

4. Sediaan ditambahkan pendapar, untuk mendapatkan sediaan tetes mata dengan pH 7,4.
Dapar posfat
Dibasic Sodium Phoshate (Dinatrium posfat dihidrat)
Sumber HPE second editional p.455
Pemerian : Serbuk kristal tidak berwarna/ putih dan higroskopis, tidak berbau.
% pakai : (Lihat perhitungan)
pKa : 7,21 (250C)
pH : 8,5 – 9,6
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air.
Cara sterilisasi : autoklaf
OTT : alkaloid, antipirin, kloralhidrat, lead acetat, pirogalol, resorsinol, kalsium glukonat, dan kalsium.
Kegunaan : pendapar

Monobasic Potassium Posphate (Kalium diposfat dihidrat)
Sumber HPE second editional p.458
Pemerian : Serbuk kristal tidak berwarna/ putih, tidak berbau.
% pakai : (Lihat perhitungan)
pKa : 2,15 (250C)
pH : 4,1 – 4,5
Kelarutan : sangat mudah larut dalam air.
Cara sterilisasi : autoklaf
OTT : Karbonat, garam Al, Ca, Mg,
Kegunaan : pendapar
* Saat praktikum menggunakan Kalium diposfat dihidrat (KH2PO¬4 dihidrat) sebagai asam.
* Saat praktikum menggunakan dinatrium posfat anhidrat (Na2HPO¬4 anhidrat) sebagai garam.
* Kapasitas dapar dipilih adalah nilai kapasitas terkecil 0,01%, karena diharapkan dengan kapasitas dapar terkecil dapar dapat lebih mudah diencerkan oleh air mata yang jumlahnya sangat sedikit ketimbang cairan tubuh lainnya seperti darah, sehingga pHnya menjadi 7,4 sesuai dengan pH cairan mata.

5. Sediaan ditambahkan larutan pengisotoni berupa NaCl fisiologis 0,9% untuk mencegah terjadinya plasmolisis atau hemolisis sel-sel darah di sekitar mata.
NaCl
Sumber HPE second editional p.439
Pemerian : Serbuk/ kristal putih, tidak berbau, rasa asin.
% pakai : up to 0,9%
pH : 6,7 – 7,3
Kelarutan : 1 : 2,8
Cara sterilisasi : autoklaf
OTT : korosif dengan besi, membentuk endapat dengan perak dan raksa, kelarutan metil paraben menurun.
Kegunaan : larutan pengisotoni.

6. Sediaan ditambahkan pengental agar lebih lama kontak dengan mata
PVP ( Polivinil pirolidon)
Pemerian : serbuk; putih; hampir tidak berbau; higroskopis
Kelarutan : mudah larut dalam asam, kloroform, ethanol, keton, metanol dan air. Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon dan mineral oil.
Fungsi : pengental (0,25 %)


RANGKUMAN HASIL PENGKAJIAN PRAFORMULASI

No Diinginkan Pemecahan Rekomendasi Pemilihan Alasan
1 Dibuat sediaan tetes mata steril Membuat sediaan yang cocok untuk stabilitas zat aktif • Sedian steril Volume Kecil
• Sedian steril Volume Besar

Sedian steril Volume kecil
Karena kapasitas mata untuk menahan atau menyimpan cairan dan salep terbatas, pada umumnya obat mata diberikan dalam volume yang kecil
2 Rute pemberian untuk tetes mata steril

Sediaan harus digunakan dengan rute pemberian yang sesuai Rute pemberian yang benar
Im
Iv
Guttae Guttae Karena pada umumnya, pemberian obat tetes mata steril langsung diteteskan di balik kelopak mata.

3 Sediaan dibuat obat tetes mata steril Dapat tercampur dengan konsentrasi dalam tubuh Dibuat sediaan yang bersifat
 Isotonis
 Hipotonis
 Hipertonis Isotonis Syarat sediaan tetes mata steril harus berupa sediaan yang isotonis

4 Sediaan tidak boleh terbentuk kompleks logam Ditambahkan zat pengkhelat - dinatrium edetat Dinatrium edetat Dipilih agar tidak terbentuk kompleks dengan logam wadah
5 Sediaan harus memiliki stabilitas yang terjaga selama penggunaan dan agar tidak ada kemungkinan teroksidasi saat di sterilisasi Ditambahkan antioksidan BHT
BHA
Sodium bisulfit Sodium bisulfit Merupakan antioksidan yang cocok untuk garamycin
6 Sediaan diharapkan memiliki kekentalan agar memiliki kontak yang lama dengan mata Ditambahkan pengental PVP
Na CMC PVP Merupakan pengental yang cocok
7 Sediaan diharapakan memiliki rentang pH yang stabil yaitu 7 Ditambahkan dapar Na2HPO4 dihidrat KH2PO4 anhidrat Na2HPO4 dihidrat dan KH2PO4 anhidrat Merupakan dapar yang sesuai
8 Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya mikroba Sediaan tetes mata steril yang stabil secara biologi. Di beri zat pengawet :
 Fenilmerkuri nitrat.0,002%
 Benzalkonimu klorida 0,01%
 Chlorhexidine acetat 0,01%  Benzalkonimu klorida 0,01%
Merupakan pengawet yang biasa digunakan untuk pembuatan tetes mata steril dengan bahan aktif garamycin.

9. Zat/sediaan dikhawatirkan terkontaminasi oleh adanya mikroorganisme Sediaan steril terhindar dari mikroorganisme Dilakukan proses sterilisasi
• sterilisasi aseptis
• sterilisasi akhi Sterilisasi akhir Karena pada umumnya pembuatan tetes mata steril didasarkan pada kondisi kerja aseptik
10 Penandaan berdasarkan golongan obat bermacam-macam
Penandaan golongan yang sesuai sebagai petunjuk penggunaan konsumen
=Obat keras

=Obat bebas terbatas

=Obat bebas

Obat keras
Karena penggunaan sediaan injeksi harus dengan resep dokter dan perlu dilakukan oleh tenaga ahli medis

BAB IV

F O R M U L A S I

a. Data Zat Aktif
Daftar obat Gentamisin
Dosis lazim Tetes mata 0,3%, 4 – 6 kali sehari 1 – 2 tetes.
Kelarutan Sumber FI edisi 3: Mudah larut dalam air. (1 : 1 – 10). Praktis tidak larut dalam etanol 95%, kloroform, dan eter
Ph - 4% larutan dalam air : 3,5 – 4,5
- tetes mata : 6,5 – 7,5
Jenis sterilisasi Filtrasi, dengan penyaring bakteri.
* teknik aseptis
Khasiat Antibiotik yang dapat mengatasi infeksi kuman Pseudomonas, Proteus, dan Staphylococcus yang resisten dengan penisilin.

b. Formula Standar
Martindale edisi 28 hlm.1173
Eye-drops
Gentamicin Sulphate Opthalmic Solution (USP):
A sterile buffered solution of gentamicin sulphate with preservatives containing the equivalent of 3 mg gentamicin per ml. pH 6,5 – 7,5. Store at temperature not exceeding 400 in airtight containers.

c. Formula Menurut Literatur
Gentamicin Sulphate Opthalmic Solution (USPNF 25):
A sterile buffered solution of gentamicin sulphate with preservative. It contains the equivalent of not less than 90,0 % and not more than 135,0 % of the labeled amount of Gentamicin. pH 6,5 – 7,5.

d. Formulasi yang dibuat :
Tetes mata Gentamisin Sulfat
Tiap ml mengandung :
Gentamisin sulfat 5,0487 mg (setara dengan 3 mg Gentamicin)
Benzalkonuim klorida 0,01%
Disodium edetat 0,02%
Sodium bisulfit 0,05%
Na2HPO4 dihidrat 0,099
KH2PO4 anhidrat 0,136
PVP 0,25 %
NaCl 75,4 mg
Api ad 10 ml

BAB V

PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN BAHAN


 PERHITUNGAN BAHAN

Gentamisin
Potensi 1 miligram gentamisin sulfat setara dengan 590 mikrogram gentamisin.
3 mg Gentamicin per ml (0,3 %) = 3000 mikrogram
Gentamicin sulfat = 3000 mikrogram = 5,0847 mg
590 mikrogram
Dapar
Kapasitas dapar = β = 0,01%
H2PO4- sebagai asam (KH2PO4 anhidrat)
HPO42- sebagai garam (Na2HPO4 dihidrat)
pKa Na2HPO4 = 7,21
pH = 7
Jawab:
pKa = - log Ka
7,21 = - log Ka
Ka = 10-7,21
= 6,2 × 10-8

pH = - log [H+]
7 = - log [H+]
[H+] = 10-7


Pers.1
pH = pKa + log [G]
[A]
7 = 7,21 + log [G]
[A]
log [G] = - 0,21
[A]
[G] = 10-0,21
[A]
[G] = 0,62
[A]
[G] = 0,62 [A]

Pers.2
β = 2,3 C × Ka × [H+]
(Ka + [H+])2
0,01 = 2,3 C × 6,2 × 10-8 × 10-7
[(6,2 × 10-8) + 10-7]2
C = 0,018 M

Pers.3
C = [A] + [G]
0,018 = [A] + (0,62 [A])
0,018 = 1,62 [A]
[A] = 0,01 M

Maka,
[G] = 0,62 [A]
= 0,62 × 0,01 M
[G] = 0,0062 M

Pers.4
Berat asam = ...?
Berat garam = ...?
BM Na2HPO4 dihidrat (garam) = 159,94
BM KH2PO4 anhidrat (asam) = 136,09
Asam
M = massa × 1000
BM V(ml)
0,01 = massa × 1000
136,09 10 ml
Massa asam = 0,0136 gram
% massa asam (dalam 10 ml) = 0,136%

Garam
M = massa × 1000
BM V(ml)

0,0062 = massa × 1000
159,94 10 ml
Massa garam = 0,0099 gram
% massa garam (dalam 10 ml) = 0,099 %

Tonisitas
Ekivalensi NaCl - gentamisin sulfat
Liso gentamisin sulfat (lar.elektrolit lemah) = 2
BM gentamisin sulfat = 673,59
E = 17 Liso
BM
= 17 x 2
673,59
= 0,05
Perhitungan tonisitas metode Ekivalensi NaCl :
Gentamisin sulfat E = 0,05 0,05 x 0,0050 = 0,0003
Benzalkonuim klorida E = 0,16 0,16 x 0,001 = 0,0002
Disodium edetat E = 0,22 0,22 x 0,002 = 0,0004
Na bisulfit E = 0,64 0,64 x 0,005 = 0,0032
Na2HPO4 dihidrat E = 0,05 0,42 x 0,0099 = 0,0042
KH2PO4 anhidrat E = 0,05 0,46 x 0,0136 = 0,0063 +
0,0146
Kekurangan NaCl = (0,9 % x 10) - 0,0146
= 0,0754 gram
= 75,4 mg
Gentamisin sulfat 5,0487 mg (setara dengan 3 mg Gentamicin)
Benzalkonuim klorida 0,01%
Disodium edetat 0,02%
Sodium bisulfit 0,05%
Na2HPO4 dihidrat 0,099
KH2PO4 anhidrat 0,136
PVP 0,25 %
NaCl 75,4 mg
Api ad 10 ml

 PENIMBANGAN BAHAN

Untuk 20 ml sediaan tetes mata:
1. Gentamisin sulfat = 20 ml/ 10 ml × 5,0847 mg = 10,169 mg = 0,01016 g
2. Benzalkonium klorida = 0,01 % × 20 ml = 0,002 gram
3. Disodium edetat = 0,02 % × 20 ml = 0,004 gram
4. Na bisulfit = 0,05 % × 20 ml = 0,01 gram
5. Na2HPO4 anhidrat = 0,099 % × 20 ml = 0,0198 gram
6. KH2PO4 dihidrat = 0,136 % × 20 ml = 0,0272 gram
7. PVP = 0,25 % x 20 ml = 0,05 gram
8. NaCl = 0,0754 % × 20 ml = 0,0150 gram


BAB VI
PROSEDUR KERJA

• Alat dan Cara Sterilisasi
Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi
Erlenmeyer 1 buah Oven 1700 C 30 menit
Beaker glass 4 buah Oven 1700 C 30 menit
Kaca Arloji / cawan penguap 7 buah Oven 1700 C 30 menit
Batang Pengaduk gelas 1 buah Oven 1700 C 30 menit
Spatel logam 1 buah Oven 1700 C 30 menit
Gelas Ukur 25 ml/ 50 ml 1 buah Autoklaf 115-1160 C 30 menit
Kertas saring 1 buah Autoklaf 115-1160 C 30 menit
Corong gelas 1 buah Autoklaf 115-116° C 30 menit
Botol plastic berpipet 1 buah Dikocok/ direndam dengan etanol 96% 24 jam.


• Prosedur Pembuatan
1. Dipersiapkan alat dan bahan.
2. Dibuat Aqua Pro Injeksi di white area, dengan prosedur :
a. 1 liter aquabidest dipanaskan diatas hotplate sampai mendidih.
b. Waktu pemanasan dihitung selama 30 menit (waktu mulai dihitung setelah air mendidih).
c. Setelah itu dipanaskan lagi selama 10 menit agar diperoleh API bebas O2.
3. Beaker glass dikalibrasi 20 ml, botol plastik berpipet dikalibrasi 10,5 ml.
4. Botol berpipet disterilisasi dengan dikocok/ direndam dengan etanol 96%.
5. Ditimbang masing-masing bahan.
6. Bahan yang telah ditimbang disiapkan ke dalam nampan juga alat-alat yang diperlukan selama proses pembuatan yang telah disterilisasi, kemudian dipindahkan ke ruang pembuatan (White Area) melalui passbox.
7. Keranjang nampan diambil melalui passbox di White area dengan memastikan katup passbox pada Grey Area tertutup.
8. Dapar dilarutkan dengan api secukupnya dalam beaker glass yang sudah dikalibrasi, dan kaca arloji bekas menimbang dibilas. (M1)
9. PVP dibuat mucilago.
10. NaCl dilarutkan dengan api ad larut dan dimasukkan M1.
11. Na2 EDTA dilarutkan dengan api ad larut dan dimasukkan ke dalam M1.
12. Sodium metabisulfit dilarutkan dengan api ad larut dan dimasukkan ke dalam M1.
13. Benzalkonium klorida dilarutkan dengan api ad larut dan dimasukkan ke dalam M1.
14. Bahan aktif gentamisin sulfat dilarutkan dengan API secukupnya sampai larut dan dimasukkan ke M1, diaduk homogen.
15. Dicampurkan M1 dengan mucilago PVP.
16. pH sediaan dicek dengan pH indikator.
17. API ditambahkan sampai volume tepat 20 ml.
18. Larutan tersebut disaring dengan kertas saring dan kemudian ditampungnya dalam beaker glass yang telah dikalibrasi.
19. Larutan tetes mata yang telah steril sebanyak 10,5 ml dimasukan ke dalam botol berpipet yang khusus digunakan untuk sediaan tetes mata yang telah dikalibrasi.
20. Sediaan tetes mata yang sudah jadi (dalam beaker glass tadi) ditutup dengan kaca arloji dan disterilisasi dengan autoklaf pada suhu 115 – 1160C selama 30 menit.
21. Sediaan jadi diberi etiket, dan dilengkapi dengan brosur.

BAB VII
EVALUASI SEDIAAN

Sesaat setelah dibuat :
1. Organoleptis :
- Bentuk : larutan
- Warna : bening, jernih
2. pH : 6 - 7
3. Homogenitas : homogen

Setelah di simpan selama 2 minggu :
2. Organoleptis :
- Bentuk : larutan
- Warna : bening, jernih
2. pH : 4 - 5
3. Homogenitas : homogen
4. Wadah masih dalam keadaan tertutup rapat dan tidak terjadi kebocoran wadah.

BAB VIII
PEMBAHASAN

Pada praktikum steril kali ini dibuat sediaan obat tetes mata dengan bahan aktif gentamicin sulfat. Digunakan bentuk garam dari gentamicin ini, agar dapat mudah larut dalam pembawa air. Obat tetes mata sebaiknya dalam bentuk larutan agar dapat dengan mudah berpenetrasi dan bercampur dengan cairan lakrimal mata. Gentamicin sulfat sendiri digunakan sebagai antibiotika yang dapat mengatasi infeksi kuman Pseudomonas, Proteus dan Staphylococcus yang retensi terhadap Penicilin.
Pada formulasi digunakan beberapa bahan tambahan selain pelarut API. Bahan-bahan tersebut adalah Benzalkonium klorida, Disodium edetat, sodium bisulfit, Dinatrium fosfat, Kalium difosfat, PVP dan NaCl. Karena komponen terbesar dari sediaan adalah air dan obat tetes mata dibuat dalam volume yang agak banyak yaitu 10 ml sehingga pemakaiannya berulang-ulang, maka pengawet sangat diperlukan. Benzalkonium adalah pengawet yang paling umum digunakan untuk sediaan obat mata karena aman, stabilitas pada rentang yang luas dan keefektifannya sebagai anti mikroba. Disodium edetat adalah bahan pengkelat yang membersihkan pengtor ion logam yang dapat memberikan efek merugikan terhadap stabilitas obat tertentu. Kombinasi antara Disodium edetat dengan Benzalkonium klorida dapat meningkatkan efektifitas Benzalkonium klorida sebagai enti mikroba.
Selain dua bahan diatas, ditambahkan pula sodium bisulfit untuk mencegah oksidasi pada saat sterilisasi dengan menggunakan autoklaft. Sodium bisulfit bekerja efektif pada rentang pH yang diinginkan dalam sediaan ini yatu 6 - 7. Untuk memprtahankan pH sediaan, digunakan kombinasi antara Dinatrium fosfat, Kalium difosfat. Cairan mata memiliki rentang pH yang luas, namun untuk lebih baik lagi apabila sediaan memiliki pH netral. Bahan aktifpun tetap stabil pada pH netral. Dihitung penggunaan kedua komponen diatas seperti yang terdapat pada bab sebelumnya. Diharapkan bahan tersebut dapat mempertahankan pH sediaan selama disimpan hingga sediaan tidak digunakan lagi. Selain itu, untuk lebih mempertahankan kontak obat dengan meta, maka dibutuhkan pengental agar viskositas dari sediaan bertambah. Bahan yang dipilih adalah Polivinil pirolidon. Bahan ini cocok untuk sediaan obat mata, dan tidak menghasilkan warna yang buram. Sediaan tetes mata juga harus isotonis dengan cairan air mata. Setelah dihitung keekivalensian tiap bahan terhadap NaCl 0,9 % sebagai patokan larutan yang isotonis, maka dalam formulasi harus ditambahkan 75, 4 mg NaCl.
Cara sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir dengan autoklaft pada suhu 115oC. Dalam pengerjaan sebisa mungkin dilakukan secara asptis. Sebelum disterilkan, bahan-bahan ditimbang dan masing-masingnya dilarutkan dengan API. PVP membentuk mucilage setelah dicampurkan dengan API. Setelah itu, basing-masing bahan terlarut API dicampurkan dan kemudian dicampurkan sedikit-sedikit ke dalam mucilage PVP. Diaduk hingga homogen. Kemudian disaring dan dilakukan pengecekan pH sebelum penambahan API hingga volume yang diinginkan. pH larutan tersebut adalah antara 6 - 7. Setelah sediaan jadi, diperoleh larutan yang bening. Sediaan dimasukkan ke dalam wadah dan kemudian disterilisasi dengan autoklaft pada suhu 115oC.
Setelah penyimpanan sediaan selama 2 minggu, dilakukan eveluasi terhadap sediaan. Diperoleh larutan yang bening dan setelah dicek pH sediaan diperoleh pH antara 4 - 5. pH tersebut tidak sesuai persyaratan sediaan yaitu 6,5 - 7,5. Ternyata buffer yang digunkan tidak dapat mempertahankan pH sediaan sesuai yang diinginkan. Tidak terjadi kebocoran wadah, dan wadah masih dalam keadaan tertutup rapat

BAB IX
KESIMPULAN
1. Gentamisin sulfat dapat dibuat dsediaan tetes mata untuk indikasi antimikroba.
2. Dalam pembuatan sediaan obat tetes mata gentamisin sulfat perlu ditambahkan zat eksipien antara lain Benzalkonium klorida, Disodium edetat, sodium bisulfit, Dinatrium fosfat, Kalium difosfat, PVP, NaCl dan API.
3. Dari hasil evaluasi sediaan diperoleh larutan jernih dengan pH 6 – 7, namun setelah penyimpanan selama 2 minggu pH berubah menjadi 4 - 5

DAFTAR PUSTAKA

American Pharmaceutical Association. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, second edition. London : The Pharmaceutical Press.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI Press.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia, edisi ketiga. Jakarta : Badan Pengawasan Obat dan Makanan.
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
Sulistiawati, Farida M.Si, Apt. dan Suryani, Nelly M.Si, Apt. 2007. Penuntun Praktikum Teknologi Sedian Steril. Jakarta.
Tjay, Tan Hoan, Drs, dkk. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek Sampingnya. Jakarta : PT. Alex Media Komputindo

LAMPIRAN

Etiket
GARAMICYN tetes mata

Komposisi
Tiap ml mengandung :
Gentamicyn sulfat 5,04 mg
Setara dengan 3 mg Gentamicyn

No. Reg : DKL 07081178837A1
No. Batch : FB 003
Exp. Date : November 2011 CHANA Pharma
Indonesia
Harus Dengan Resep Dokter

1 komentar:

intankrisna mengatakan...

ass,
perkenalkan saya mhsswi farmasi.
kebetulan sy mw penelitian tekfar steril.
waktu sy lht blog ini, kyknya mba (sy panggilnya apa yah?) suka sm bidg ini, makany saya mw tny.
dari hasil yg OTM garamicyn ini, brarti dg formula itu pH nya jd turun yah?
berarti pemilihan buffernya kurang tepat?'oia., kok sediaanya di sterilisasi akhir lg y?
setau sy dr literatur, AB brsifat tdk stabil pd suhu tinggi. lalu gmn mba, ada pnjlsn?
trmakasih, sy tunggu jwbnnya, setidaknya bs sy jadikan acuan u/ penelitian saya.