Assalamu'alaikum ...

Foto saya
depok, jawa barat, Indonesia
jadilah apa yang kau inginkan!

Kamis, 08 Juli 2010

Infus NaCl Majemuk laporan 1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak elektrolit yang dibutuhkan tubuh yang terutama adalah Kalium untuk cairan intrasel dan natrium untuk cairan ekstrasel. Untuk memenuhi kebutuhan akan elektrolit dalam tubuh ini, dibutuhkan suatu sediaan parenteral volume besar yang berisi elektrolit yang dibutuhkan tubuh. Selain untuk memenuhi kebutuhan, sediaan ini juga berguna untuk menjadi larutan pembawa untuk beberapa obat.
Larutan sediaan parenteral volume besar digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang akan atau sudah dioperasi, atau untuk pendeita yang tidak sadar dan tidak dapat menerima cairan, elektrolit, dan nutrisi lewat mulut. Larutan-larutan ini dapat pula diberikan pada penderita yang mengalami kehilangan banyak cairan dan elektrolit yang berat, seperti pada penyakit demam dengue.
Maka sangat penting bagi kita sebagai seorang farmasis untuk bisa dan mampu memformulasi suatu sediaan infus yang harus dibuat steril dan bebas pirogen.

1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan yang hendak kami capai dalam praktikum ini adalah untuk :
1. Memperoleh gambaran mengenai praformulasi sediaan infus (injeksi volume besar) yang dibuat.
2. Mengetahui mengenai pengertian, pembagian, cara pembuatan, perhitungan dosis, sterilisasi dan penyerahan sediaan infus.
3. Agar dapat menyalurkan ilmu yang sudah didapat selama perkuliahan dalam bentuk pengamatan dan penyusunan makalah berdasarkan dasar-dasar teori dalam mata kuliah teknologi sediaan steril.









BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.1 Pengertian Infus (Injeksi Volume Besar)
Sediaan parenteral volume besar merupakan sediaan cair steril yang mengandung obat yang dikemas dalam wadah 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia.Infus adalah larutan injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas dalam wadah lebih dari 100 ml. (FI IV hal 10). Infuse merupakan sediaan steril, berupa larutaan atau emulsi besas pirogen dan sedapat mungkin harus isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung langsung ke dalam vena dalam volume relative banyak. ( FI III hal 12).
Infus merupakan larutan dalam jumlah besar terhitung mulai dari 10 ml yang diberikan melalui intravena tetes demi tetes dengan bantuan peralatan yang cocok. Asupan elektrolit dan air dapat terjadi melalui makanan dan minuman dan dikeluarkan dalam tubuh dalam jumlah relative sama. Rasionya dalam tubuh adalah air 57%, lemak 20,8%, protein 17,0%, serta mineral dan glikogen 6%.ketika terjadi gangguan homeostasis (keseimbangan cairan tubuh), maka tubuh harus segera mendapatkan terapi untuk mengembalikan keseimbangan air dan elekrolit.
Tujuan penggunaan sediaan parenteral volume besar antara lain :
1. Bila tubuh kekurangan air, elektrolit dan karbohidrat maka kebutuhan tersebut harus cepat diganti
2. Pemberian infus memiliki keuntungan karena tidak harus menyuntik pasien berulangkali
3. Mudah mengatur keseimbangan keasam dan kebasaan obat dalam darah
4. Sebagai penambah nutrisi bagi paseien yang tidak dapat makan secara oral
5. Berfungsi sebagai dialisa pada pasien gagal ginjal
Syarat sediaan parenteral volume besar harus steril dan bebas pirogen, karena sediaan diinjeksikan langsung kedalam aliran darah (i.v), sediaan ditumpahkan pada tubuh dan daerah gigi (larutan penguras), sediaan langsung berhubungan dengan darah (hemofiltrasi), sediaan langsung ke dalam tubuh (dialisa peritoneal). Persyaratan infuse intra vena adalah sebagai berikut: sediaan steril berupa larutan atau emulsi, babas pirogen ( pirogen adalah senyawa organic yang menyebabkan demam berasal dari pencemaran mikroba), sedapat mungkin isohidri dan harus isotonis terhadap darah, infuse intravena tidak mengandung bakterisida dan zat dapar, jika berupa emulsi harus bertipe o/w dengan diameter fase dalam tidak lebih dari 5┬Ám dan harus dinyatakan, penyimpan dalam dosis tunggal, dan jika digunakan untuk melengkapi cairan, makanan bergizi dan injeksi manitol disyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya.

I.2 Tujuan Pemberian Infus
Larutan sediaan parenteral volume besar digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk pasien-pasien yang akan atau sudah dioperasi, atau untuk penderita yang tidak sadar dan tidak dapat menerima cairan, elektrolit, dan nutrisi lewat mulut. Larutan – larutan ini dapat juga diberikan dalam terapi pengganti pada penderita yang mengalami kehilangan banyak cairan dan elektrolit yang berat.

I.3 Hubungan Antara Osmolaritas dan Tonisitas
Etiket pada larutan yang diberilan secara intravena untuk melengkapi cairan, makanan bergizi atau injeksi manitol diisyaratkan untuk mencantumkan kadar osmolarnya. Keterangan kadar osmolarnya membantu untuk memberikan informasi apakah larutan ini isotonis, hipotonis atau hipertonis.
Kadar osmolar ideal didapat dengan:
m.osmole/liter = g / L larutan x 1000 x jumlah ion
BM zat terlarut

Osmolarita (Mosmole/ltr) Tonisitas
> 350
329 – 350
270 – 328
250 – 269
0 – 249 Hipertonis
Sedikit hipertonis
Isotonis
Sedikit hipotonis
Hipotonis


I.4 Penggolongan Sediaan Infus Berdasarkan Komposisi dan Kegunaannya Tubuh manusia mengandung 60% air dan terdiri atas cairan intreaseluler 40% yang mengandung ion-ion K, Mg, sulfat, fosfat, protein serta senyawa organic asam fosfat.
a. Fungsi Larutan Elektrolit
Secara klinis, larutan digunakan untuk mengatasi perbedaan ion atau penyimpangan jumlah normal elektrolit dalam darah. Ada 2 jenis kondisi plasma darah yang menyimpang, yiatu :
 Asidosis
Kondisi plasma darah yang terlampaui asam akibat adanya ion Cl dalam jumlah berlebih
 Alkalosis
Kondisi plasma darah yang terlampaui basa karena kelebihan ion Na, K, Clorida.
b. Infus Karbohidrat
Adalah sediaan infus yang berisi larutan glukosa atau dekstrosa yang cocok untuk donor kalori. Kita menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan glikogen otot kerangka, hipoglikemia, dll. Kegunaan : 5% isotonis, 20% diuretik, dan 30-50% untuk udem otak

1.5. Evaluasi Sediaan Infus
Yang perlu dievaluasi dalam sediaan infus ini antara lain:
1. Evaluasi fisika: pH, volume injeksi dalam wadah, bahan artikulat, uji kebocoran, uji kejernihan dan warna.
2. Evaluasi kimia: penetapan kadar, identifikasi
3. Evaluasi biologis: Uji sterilitas, uji pirogen, uji endotoksin bakteri, penetapan kadar antibiotik
4. Pengemasan dan penyimpanan
5. Penandaan
















BAB III
PRAFORMULASI
III.1. Data Zat Aktif:
a. Zat Aktif : NaCl
Sinonim : Sodium Chloride
BM : 58,44
1. Pemerian : Hablur heksahedral tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa asin.
2. Kelarutan :- Larut dalam 2,8 bagian air - Sukar larut dalam etanol 96%
- Larut dalam 2,7 bagian air didih - Larut dalam 10 bagian gliserol
3. pH : 6,7 -7,3
4. Stabilitas : larutan sodium klorida stabil tetapi dapat menyebabkan perpecahan partikel kaca dari tipe tertentu wadah kaca. Larutan cair ini dapat disterilisasi dengan cara autoklaf atau filtrasi. Dalam bentuk padatan stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sejuk dan tempat kering.
5. Penggunaan: Sumber ion kloridan dan ion natrium ; Agen tonisitas
6. Dosis : -

b. Zat aktif : Kalii Chloridum
Sinonim : Potassium Chloride
BM : 74,55
1. Pemerian : tidak berbau; kristal tidak berwarna; atau bubuk kristal putih, rasa garam yang tidak menyenangkan.
2. pH : 7 untuk larutan pada suhu 15oC
3. Kelarutan : praktis tidak larut dalam acetone dan eter; larut dalam 250 bagian etanol 95%; larut dalam 14 bagian gliserin; larut dalam 2,8 bagian air dan 1,8 bagian pada suhu 100oC.
4. Fungsi : agen tonisitas ; sumber ion Kalium
5. OTT : larutan potassium klorida bereaksi kuat dengan bromine triflouride dan dengan campuran asam sulfur dan permanganate kalium. Kehadiran asam klorida, NaCl, dan MgCl menurunkan kelarutan KCl dalam air. Larutan KCl mengendap dengan garam perak dan lead. Larutan iv KCl OTT dengan protein hidrosalisilat.
6. Stabilitas : larutan KCL dapat disterilisasi dengan autoklaf atau filtrasi. KCl stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, tempat sejuk dan kering.

c. Zat aktif : Calcii Chloridum
Sinonim : Calcium Chloride Dihydrate
BM : 147
1. Pemerian : bubuk kristal, higroskopis, tidak berbau, tidak berwarna atau putih
2. pH : larutan 5% dalam air memiliki pH 4,5-9,2.
larutan 1,7% dalam air memiliki keadaan yang isoosmotik dengan serum.
3. Kelarutan : larut dalam 1,2 bagian air; larut dalam 0,7 bagian air mendidih; larut dalam 4 bagian alcohol; larut dalam 2 bagian alcohol mendidih
4. Fungsi : agen tonisitas ; sumber ion Kalsium
5. OTT : OTT dengan larutan Karbonat, posfat, sulfat dan tartrat; dengan amphotericin, cephalothin sodium, Klorfeniramina maleat, Klortetrasiklin, HCl, Oksitetrasiklin HCl, dan tetrasiklin HCl. Kadang-kadang OTT yang tergantung pada konsentrasi yang terjadi dengan Natrium bikarbonat.

III.2. Formula Standar
1. Injeksi Natrium Klorida Majemuk (Fornas: 203)
Komposisi: Tiap 500 ml mengandung:
NaCl 4,3 g
KCl 150 mg
CaCl 2,4 g
API ad 500 ml

Penyimpanan: Dalam wadah dosis tunggal ditempat sejuk
Catatan: - pH 5 sampai 7.5
- Tidak boleh mengandung bakterisida
- Disterilkan dengan cara sterilisasi A atau C, segera setelah dibuat
- Bebas Pirogen
- Pada etiket harus juga tertera banyaknya ion Kalium, ion Ca, Ion Klorida dan ion Natrium masing-masing dalam mEq per liter
- Diinjeksikan secara infusi

III.3. TakTersatukan Zat Aktif
Larutan natrium klorida bersifat korosif dengan besi; membentuk endapan bila bereaksi dengan perak; garam merkuri; agen oksidasi kuat pembebas klorine dari larutan asam sodium klorida; kelarutan pengawet nipagin menurun dalam larutan sodium klorida.
CaCl2 akan bereaksi dengan gas CO2 akan menghasilkan endapan CaCO2

III.4. Usul Penyempurnaan Sediaan
Api yang digunakan harus bebas CO2
Ditambah karbon aktiif 0,1 % untuk menghilangkan pirogen


III.5.. Alat dan Cara Sterilisasinya
Nama Alat Jumlah Cara Sterilisasi
Kaca arloji 1 Oven 1700C
Spatula 1 Oven 1700C
Pinset 1 Oven 1700C
Beaker glass 3 Oven 1700C
Pipet tetes tanpa karet 1 Autoklaf
Gelas ukur 1 Autoklaf (115-1160C)
Erlenmeyer 2 Oven 1700C
Kertas saring 1 Autoklaf
Corong 1 Autoklaf
Spuit 1 Autoklaf
Botol infuse 1 Autoklaf
Karet pipet 1 Jenuh etanol


BAB IV
FORMULASI INFUS
IV.1. Formula Akhir
R/ NaCl 2,15 gram
KCl 75 mg
CaCl2 1,2 gram
API add 250 mL

IV.2. Perhitungan dan Penimbangan
• Kelebihan volume tiap wadah untuk cairan encer lebih dari 50 ml yaitu 2%.
Maka, volume sediaan yang dibuat 250 ml + (2 % x 250)ml = 255 ml
• Kelebihan volume total untuk antisipasi kehilangan selama proses = 10 %
Maka, volume total yang dibuat 255 ml + (10% x 255) ml = 280,5 ml ≈ 300 ml
• Penimbangan bahan: NaCl = 300 x 2,15 g = 2,58 g
250
KCl = 300 x 75 mg = 90 mg
250
CaCl2= 300 x 1,2 g = 1,44 g
100

• Perhitungan tonisitas dengan rumus White Vincent:
V = W x E x 111,1
Keterangan :
V = Volume larutan obat
W = massa bahan obat (gram)
E = Ekivalensi NaCl
111,1 = Volume larutan isotonis
Maka :
NaCl = 2,58 x 1 x 111,1 = 286,638 ml
KCl = 0,090 x 0,76 x 111,1 = 7,599 ml
CaCl2 = 1,44 x 0,5 x 111,1 = 79,992 ml +
= 374,229 ml
Untuk larutan 300 ml = 374,229 – 300 = 74,229 ml
g NaCl berlebih W = 74,229 = 0,668 g
1. 111,1
NaCl yang ditimbang = 2,58 – 0,668 = 1,912 g
• Perhitungan osmolarita
M osmolarita NaCl: BM NaCl = 58,5
Jumlah ion = 2
Rumus: gr/ ltr zat terlarut x 1000 x jml ion
BM zat terlarut

= 1,912g/0,3 L x 1000 x 2
58,5
= 5,85 / 58,5 x 1000 x 2
= 217,89
M osmolarita KCl: BM KCl = 74,55 ; jml ion = 2
= 0,090g/0,3 L x 1000 x 2
74,55
= 0,36/ 74,55 x 1000 x 2
= 8,0482
M osmolarita CaCl2 : BM CaCl2 = 147 ; jml ion = 3

= 1,44 g/0,3 L x 1000 x 3
147
= 5,76/ 147 x 1000 x 3
= 97,959
Total = 217,89 + 8,0482 + 97,959
= 323,897

Berdasarkan tabel hubungan osmolarita dan tonisitas:
Osmolarita (Mosmole/ltr) Tonisitas
> 350
329 – 350
270 – 328
250 – 269
0 – 249 Hipertonis
Sedikit hipertonis
Isotonis
Sedikit hipotonis
Hipotonis
Maka, larutan infuse sudah bersifat isotonis.

• Karbon aktif yang digunakan = 0,1 % x 300
= 0,3 g

IV.3. Cara Pembuatan
1. Alat dan bahan di siapkan
2. Dibuat air proinjeksi (API) dengan cara mendidihkan aquadest di atas penangas air selama 30 menit setelah mendidih dan dididihkan kembali selama 10 menit untuk membuat API bebas CO2.
3. Semua bahan yang diperlukan di timbang menggunakan kaca arloji
4. Zat aktif dilarutkan menggunakan API bebas CO2 di dalam beaker glass kemudian kaca arloji di bilas dengan API bebas CO2 sampai volume kalibrasi 300 ml tercapai.
5. Ditimbang karbon aktif 0,1% , masukkan ke dalam larutan. Gelas piala ditutup kaca arloji dan disisipi batang pengaduk
6. Dihangatkan larutan pada suhu 500-700C selama sekitar 15 menit sambil sesekali diaduk
7. Kertas saring ganda dan terlipat, dibasahi dahulu dengan API
8. Dipindahkan corong dan kertas saring ke Erlenmeyer steril bebas pirogen dibilas dengan API babas pirogen.
9. Larutan di saring hangat-hangat ke dalam Erlenmeyer
10. Botol infus dikalibrasi dengan volume 204 ml, larutan infus dimasukkan kedalam botol yang telah dikalibrasi tersebut.
11. Pasang tutup karet botol infuse steril, ikat dengan simpul champagne
12. Sterilkan botol infuse yang berisi larutan dalam autoklaf suhu 1150 – 1160 C selama 30 menit

IV.4. Evaluasi
Evaluasi yang sehrusnya dilakukan pada larutan infus adalah sebagai berikut:
1. Evaluasi fisika: pH, volume injeksi dalam wadah, bahan partikulat, uji kebocoran, uji kejernihan dan warna.
2. Evaluasi kimia: penetapan kadar, identifikasi
3. Evaluasi biologis: Uji sterilitas, uji pirogen, uji endotoksin bakteri, penetapan kadar antibiotik
4. Pengemasan dan penyimpanan
5. Penandaan
Karena keterbatasan waktu dan alat evaluasi yang dilakukan hanya evaluasi fisika masing-masing evaluasinya didapatkan:
1. pH larutan, larutan infus yang dibuat mempunyai pH 6 syarat sediaan infus adalah antara rentang pH 5-7,5.
2. Volume injeksi dalam wadah ditambahkan 2 % (untuk volume terpindahkan) dari keseluruhan larutan jadi volume dalam wadah sebanyak 204 ml.
3. Bahan partikulat, dalam larutan tidak ada bahan partikulat.
4. Uji kejernihan, larutan yang dihasilkan tetap jernih dalam penyimpanan
5. Warna larutan bening, tidak terjadi perubahan warna larutan dalam penyimpanan.





































BAB V
PEMBAHASAN
Sediaan parenteral volume besar adalah larutan produk obat yang disterilisasi akhir dan dikemas dalam wadah dosis tunggal dengan kapasitas 100 ml atau lebih dan ditujukan untuk manusia. SPVB ini umumnya diberikan secara intra vena dan non intravena, seperti untuk larutan dialisis yang diberikan secara intraperitoneal.Infus termasuk ke dalam sediaan parenteral volume besar.
Praktikum teknologi sediaan steril kali ini, kita membuat infus ringer atau disebut pula infus NaCl majemuk. Infus ringer mempunyai komposisi 3 jenis elektrolit yang dibutuhkan tubuh, dengan zat aktif NaCl, KCl, dan CaCl2. Dalam pembuatannya, sediaan harus memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan untuk sediaan parenteral volume besar, seperti syarat isohidri, steril, bebas pirogen dan isotonis. Hal ini dikarenakan, pemberian infus yang diinjeksikan langsung ke dalam pembuluh darah. Untuk larutan infus tidak diperbolehkan penambahan bahan bekteriostatik atau zat tambahan lainnya karena volume larutan banyak dan pemberiannya berupa tetesan.
Volume sediaan yang kami buat adalah dalam volume 250 ml, namun pada perhitungan perlu dilebihkan10% nya, yaitu sekitar 25 ml dan digenapkann menjadi 300 ml. Hal ini dimaksudkan karena dikhawatirkan adanya penguapan yang terjadi pada saat proses pemanasan. Selain itu, pembawa yang kami gunakan pun harus isotonis dan larutan harus isohidri karena sediaan ditujukan untuk pemberian intravena.
Berdasarkan formula standar yang kami gunakan, dihasilkan larutan yang hipertonis, sehingga kami perlu melakukan pengurangan NaCl agar larutan yang dihasilkan bersifat isotonis. Perhitungan tonisitas yang kami lakukan adalah dengan menggunakan rumus White Vincent. Zat pengisotonis yang dapat digunakan sebenarnya tidak hanya NaCl, tapi dapat juga dextrose. Tapi, karena sediaan yang kami buat hanya berisi elektrolit, maka digunakan zat pengisotonis NaCl.
Pembawa yang kami gunakan untuk sediaan injeksi ringer adalah Aqua Pro Injection bebas CO2. Karena CaCl2 dalam komponen dapat bereaksi dengan CO2 membentuk endapan CaCl3.
Pada saat proses pembuatan, zat aktif dilarutkan dengan menggunakan API. NaCl dan KCl dilarutkan secara bersamaan dalam satu wadah, sedangkan CaCl2 pelarutannya dilakukan dalam wadah yang berbeda. Hal ini dikarenakan, dekatnya kelarutan NaCl dan KCl dalam air, yaitu 2,8 dan 3 bagian air, sedangkan CaCl2 memiliki kelarutan 0,25 bagian air. Setelah ketiganya larut sempurna, ketiga bahan dicampurkan dalam satu wadah. Kemudian, alat yang berkontak dengan bahan dibilas dengan menggunakan API. Hal ini dimaksudkan untuk, membersihkan sisa-sisa zat aktif yang menempel pada alat sehingga sediaan dapat mencapai efek terapinya karena sediaan tidak menglami pengurangan dosis.
Sediaan infuse harus bebas pirogen. Pirogen adalah zat endotoksin yang dapat masuk dalam tubuh sehingga menyebabkan reaksi negative pada tubuh seperti demam. Oleh karena itu, pada sediaan yang kami gunakan ditambahkan 0,1% karbon aktif dari volume sediaan. Kadar karbon aktif yang digunakan 0,1% karena pada kadar tersebut karbon aktif efektif mengikat pirogen dalam larutan Apabila kadar zat karbon aktif kurang atau lebih dari 0,1% menyebabkan tidak aktifnya pengikatan dan penyerap pirogen, sehingga dikhawatirkan tertinggalnya pirogen dalam sediaan. Untuk mengaktifkan kerja dari karbon aktif, maka setelah zat aktif larut dan tercampur homogen, sediaan ditambahkan karbon aktif 0,1% dan dipanaskan pada suhu 50-700C selama 15 menit.
Setelah itu, sediaan disaring hangat-hangat dengan menggunakan kertas sarig ganda sebelum dimasukkan ke dalam botol infus 250 ml yang sebelumnya telah di kalibrasi, namun dalam praktikum volume larutan yang dimasukkan adlah 200 ml karena ketersediaan alat yang ada. Kemudian botol infus ditutup rapat dan diikat dengan simpul champaigne.
Proses sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi akhir, karena zat aktif yang digunakan tahan terhadap pemanasan.Proses sterilisasi tersebut dilakukan dalam autoklaf pada suhu 115-1160C selama 10 menit.
Pada saat dilakukan evaluasi, sediaan yang kami hasilkan bebas partikel melayang. Evaluasi yang dilakukan adalah
1. pH larutan, larutan infus yang dibuat mempunyai pH 6 syarat sediaan infus adalah antara rentang pH 5-7,5.
2. Volume injeksi dalam wadah ditambahkan 2 % (untuk volume terpindahkan) dari keseluruhan larutan jadi volume dalam wadah sebanyak 204 ml.
3. Bahan partikulat, dalam larutan tidak ada bahan partikulat.
4. Uji kejernihan, larutan yang dihasilkan tetap jernih dalam penyimpanan
5. Warna larutan bening, tidak terjadi perubahan warna larutan dalam penyimpanan.

BAB VI
KESIMPULAN

1. Pembuatan sediaan infuse NaCl majemuk menggunakan :
Zat aktif :
 Natrium Klorida (NaCl)
 Kalium Klorida (KCl)
 Kalsium Klorida (CaCl2)
Keadaan isotonis didapat dengan mengurangi kandungan NaCl dalam larutan sesuai perhitungan tonisitas.
2. Hasil evaluasi sediaan infuse NaCl majemuk sebagai berikut :
1. pH larutan, larutan infus yang dibuat mempunyai pH 6 syarat sediaan infus adalah antara rentang pH 5-7,5.
2. Volume injeksi dalam wadah ditambahkan 2 % (untuk volume terpindahkan) dari keseluruhan larutan jadi volume dalam wadah sebanyak 204 ml.
3. Bahan partikulat, dalam larutan tidak ada bahan partikulat.
4. Uji kejernihan, larutan yang dihasilkan tetap jernih dalam penyimpanan
5. Warna larutan bening, tidak terjadi perubahan warna larutan dalam penyimpanan.
3. Dalam etiket harus disebutkan nilai mosmol dari larutan infus yang dibuat.














DAFTAR PUSTAKA

American Pharmaceutical Association. 1994. Handbook of Pharmaceutical Excipients, second edition. London : The Pharmaceutical Press.
Ansel, Howard C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Jakarta : UI Press.
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia, edisi ketiga. Jakarta : Badan Pengawasan Obat dan Makanan.
Depkes RI. Formularium Nasional, Ed II. 1978.Jakarta.
Sulistiawati, Farida M.Si, Apt. dan Suryani, Nelly M.Si, Apt. 2007. Penuntun Praktikum Teknologi Sedian Steril. Jakarta.
The Pharmaceutical Society of Great Britain. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia twenty-eight edition. London : The Pharmaceutical Press.
Tjay, Tan Hoan, Drs, dkk. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek Sampingnya. Jakarta : PT. Alex Media Komputindo.





Etiket

Netto: 200 ml
INFUS NaCl majemuk
Komposisi:
Tiap 200 ml mengandung:
NaCl g
KCl g
CaCl2 g M osmol: 323,897

No. Reg : DKL 07081178837A1
No. Batch : FB 003
Exp. Date : November 2011
Harus Dengan Resep Dokter

Tidak ada komentar: